Translate

Jumat, 01 April 2016

Anak Baru di Kelas Inspirasi


Lokasi : Gili Maringkik, Lombok Timur - NTB


Mengapa Kelas Inspirasi?
        Selain kontribusi terhadap kemajuan pendidikan, juga turut mengambil peran untuk memberi gerakan stimulan terhadap masa depan negeri.. Tertarik mengetahui, mempelajari, kehidupan masyarakat setempat khususnya di daerah tujuan kelas inspirasi, serta keinginan untuk meraba rupa pelosok nusantara dengan keanekaragaman alamiah didalamnya..

Mengapa pengajar? Bukan dokumentator atau fasilitator?
           Ingin memberikan sedikit gambaran dan prospek kerja dunia kostruksi, mengingat tenaga insinyur di Indonesia masih sangat kurang (kuota 30% tenaga insinyur diisi oleh tenaga asing, bahkan sebagian diisi oleh tenaga bukan dibidang keprofesiannya) dan ini memcerminkan semangat pembangunan tidak seiring pengembangan SDM, terkhusus melalui pendidikan dan pelatihan..  Kita harus mengingat, dimana Jepang bangkit dari kekalahan perang dengan mendirikan sekolah teknologi hampir diseluruh penjuru negeri, hingga hari ini Jepang masih menjadi lokomotif pengembangan teknologi dan pengetahuan.. Semangat membangun negeri, setidaknya ingin kubagikan kepada adik-adik yang merupakan wajah negeri ini dimasa yang akan datang..
            Selain itu, secara pribadi, juga ingin merasakan sensasi mengajar, berbagi bersama adik-adik yang cara berpikirnya masih polos dan belum berkepentingan.. Juga ingin mencari kesibukan lain yang lebih bermanfaat ketimbang membaca koran di sore hari..

Apa yang berbeda dengan kehidupan disana?
         Sulit menyimpulkan seperti apa kesenjangan sosial dengan waktu terbatas seperti kemarin. Namun, secara langsung bisa dirasakan, seperti pada umumnya masy. Pulau, masalah sampah, air bersih, drainase, pengetahuan menjaga kelestarian pesisir dan laut adalah lingkar masalah yang sulit kita putus hubungan sebab akibatnya..
        Masyarakat Maringkik sepintas terlihat tidak begitu memprihatinkan dalam masalah ekonomi. Hasil lautnya benar-benar melimpah !

Di hari inspirasi, impian apa yg kakak sampaikan untuk menstimulasi cita-cita mereka?
         Saya hanya terus menerus menekankan, bahwa mereka adalah cadangan keras untuk masa depan negeri, terkhusus pulau kecil mereka.. Untuk menjadi keras, mereka harus berani mengimpikan seperti apa mereka dimasa yang akan datang, pekerjaan apa yg mereka inginkan.. Saya merasa belum mampu menjelaskan asas manfaat dari tiap profesi yg mereka inginkan, yang saya coba tanamkan adalah mereka harus punya target ingin menjadi apa, dan mereka harus memutuskan untuk berusaha keras mengejarnya, dengan belajar dan berkarya.. Sebagai tambahan, dengan memberi simulasi membangun jembatan dari kayu, pesan tersirat yang juga ingin kusampaikan, bahwa tidak ada hal yang benar-benar rumit jika kita ingin mempelajarinya..


Simulasi membangun jembatan sederhana berbahan kayu, karya Leonardo da Vinci

Bila kembali ke Maringkik, tindakan konkrit apa yg ingin kakak realisasikan untuk memperbaiki kesejahteraan hidup adek2 di Maringkik?
        Saya ingat kata salah satu tokoh pemuda di Maringkik, Agus, yang kira-kira seperti ini, "biar beribu-ribu buku disumbangkan ke perpustakaan desa/sekolah, jika tidak didampingi program peningkatan animo membaca bagi masyarakat, maka buku-buku itu hanya akan menjadi pajangan penuh debu"..
        Pun saya tidak begitu paham dengan 'tools' pendekatan sosial berikut pemecahan masalahnya, namun tindakan konkrit yang bisa direalisasikan dalam waktu dekat ini adalah pendekatan sosial kepada masyarakat Maringkik, banyak berdiskusi dan memahami gejolak didalamnya.. Dengan begitu kita bisa menginventaris peta permasalahan serta memberi pendampingan yang berkelanjutan untuk memaksimalkan potensi masyarakat Maringkik.. 
            Kita bisa patungan dan memberi sebuah kapal, juga memperbaiki dermaga agar kapal-kapal tersebut aman terparkir, aman dari serangan gelombang dan badai.. Tapi, apakah itu tujuan kapal dibuat?
Jika Maringkik adalah sebuah kapal, tak bijak kita buatkan dermaga untuk aman berlabuh.. Semestinya kita membantu memberi gambaran, bahwa gelombang dan badai itu sudah sangat dekat, kita harus segera berbenah, menambal kesenjangan, menyiapkan awak kapal yang handal, menerawang ihwal mata angin.. Dengan begitu, kapal Maringkik siap menerjang badai yang niscaya setelahnya akan ada pelangi.. Semburat dua pelangi..

Amin..

Lombok Barat, 1 April 2016

*jawaban korespondensi dengan sosiolog  Oryza Pneumatica Inderasari, yang juga dosen Ilmu Sosial Univ. Mataram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar