Translate

Selasa, 27 Mei 2014

Berbagi dengan Alam | Pulau Kodingareng Keke | Kep. Spermonde

Suatu hal yang indah, tak ingin diperhatikan...
Apakah kita sepaham ?

"Waktu masih kecil dulu, ikan nemo masih biasa kita temukan di pantai Losari" cerita seorang warga saat bincang-bincang Makassar tempo dulu. Telak kita harus mengakui bahwa seiring kemajuan zaman, kebutuhan manusia juga meningkat mulai dari pembangunan infrastruktur, eksplorasi sumber daya alam, pengembangan kawasan wisata, sampai kepada dekontruksi budaya. Ironinya, tidak banyak dari kita yang berpikir bahwa segala sesuatunya mesti 'seimbang', dimulai dari manusia dan akhirnya berakibat kepada manusia juga. Ketidakpuasan dan kesadaran minim adalah hal yang justru banyak kita temukan. Ruang aktualisasi yang sedemikian terbuka lebar (sosial media) membuat kita bergerak intuitif tanpa kesadaran 'seimbang'. Alam yang sudah sedemikian rusak selalu beradaptasi menjaga keseimbangan itu sendiri, lalu kita menyebutnya sebagai bencana alam, bukan bencana manusia. Pemanasan global, tanah longsor, banjir bandang, abrasi pantai, gunung meletus, adalah cara alam memulihkan dirinya.

Siapa yang membantah, kalau berbicara alam Indonesia seakan tak ada habisnya. Kerusakan alamnya juga demikian, berikut pula menjamurnya komunitas penggiat alam. Fenomena penggiat alam ini harusnya disandingkan dengan kesadaran futuristik, bahwa keindahan itu tak butuh diperhatikan, dalam arti kita harus menjaga segala bentuk keasliannya. Dengan begitu, sedikit banyaknya kita bukanlah pihak yang terlibat langsung dengan pengrusakan, terkadang kita ingin memperkenalkan, membagikan kecantikan alam, namun secara tidak sadar malah merusaknya.



Konteks melestarikan alam berbeda dengan, "budaya melestarikan alam". Budaya melestarikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, atau tanggungjawab komunitas penggiat alam, namun juga tanggungjawab individu manusia. Karena tak mungkin penyu laut memungut sampah plastik atau menanam pohon demi menjaga ekosistem. Seharusnya kita banyak belajar dari alam, bukan hanya pada persoalan "science" tapi juga membantu "self-healing" agar tak menjadi bencana buat kita. Bukan karena uang, melainkan untuk ekspektasi kebanggaan 'tanah kita, tanah surga'...

Berikut dokumentasi video dari kegiatan komunitas Makassar Backpacker, Berbagi dengan Alam di Pulau Kodingareng Keke. 17-18 Mei 2014..



Jangan berpikir melakukan hal yang besar, ketika hal kecil pun tak mampu kita lakukan..
Maka berpartisipasilah.. :)

Catatan:
- Master plan gathering creator : Ippang & Appung
- Pulau 'tak berpenghuni' Kodingareng Keke adalah salah satu pulau dari gugusan karang kepulauan Spermonde, akses transportasi mudah kita dapatkan di Dermaga Kayu Bangkoa, Dermaga Pannyyua, atau Pelabuhan Paotere Makassar. Dengan perahu sewaan kita dapat merapat ke dermaga Kodingareng Keke dengan waktu tempuh 45 menit. Silahkan berkunjung dan berkontribusilah terhadap konservasi keindahan alam..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar