Translate

Senin, 17 November 2014

Sebait Puisi

Hey..
Coba katakan kembali padaku..

Surga yang mana,
Ketika banyak diantara yang merdu, elok, sunyi,
Divonis mati tiga dekade lagi..

Rakyat yang mana,
Ketika yang kau bela menuntutmu dibui, dibunuh atau dibuang.
Rakyat yang menghardikmu tak mengharapkanmu.

Negeri yang mana,
Ketika kemiskinan dan kebodohan itu dipelihara,
Menjadi pupuk untuk suburnya ladang-ladang pebisnis..

Anak muda yang mana,
Ketika wadah kreatifitas dikungkung dalam tempurung profesionalitas..
Dibiarkan sibuk dengan sosial media tanpa ada waktu lagi bercerita negeri..

Kukira ini seperti bait puisi,
"Hidup ini hanyalah bayangan berjalan,
Seperti aktor yang gagal dan merepet diatas panggung..
Tidak bermakna apa-apa...."

Tamalanrea, 17 November 2014

Senin, 27 Oktober 2014

Taman Laut SPERMONDE

Makassar, sebagai gerbang wilayah Indonesia bagian Timur, menyajikan berbagai macam keanekaragaman budaya dan potensi wisata. Negeri yang dulunya dikenal dengan para perompak, penjelajah seantero dunia, kini terus berbenah untuk memajukan segala potensi lokal dan terlebih kepada potensi sumber daya manusianya. Ragam aktivitas orang Makassar, tercermin dari perawakan yang tegas dan keras. Terlepas dari cerita sejarah, orang-orang Sulawesi pada umumnya memang senang berkelana, menyukai tantangan dan senang bergaul. Tidak begitu membesar-besarkan, jikalau Indonesia dipetakan secara karakter, maka di Sulawesi-lah gudangnya para Kesatria. Tapi kita tidak akan bercerita banyak soal itu, laiknya sebuah cerita, sejarah dan budaya merupakan intro untuk menceritakan atau menerjemahkan segala fenomena dan atau makna kejadian hari ini. Bukannya tak ada yang bisa berlari dari masa lalu?

Saya ingin banyak bercerita, walaupun tak banyak yang ingin mendengarkan. Seperti kebanyakan, cerita tentang tempat-tempat terbaik yang pernah kukunjungi adalah motivasi terbesar untuk tetap menjaga intensitas menulis. Cerita-cerita dalam blog ini sebagai catatan sejarah, bahwa generasi mendatang perlu informasi sebagai perbandingan kualitas zaman yang mereka singgahi. Sebagai satu bukti bahwa, alam ini indah adanya, yang terkadang kita lupa dan serakah untuk tidak sekedar ingin menyadarinya. Namun beginilah adanya, informasi itu seperti pedang bermata dua, berbagi cerita keindahan bisa berarti mengajak orang-orang untuk menikmatinya juga, atau malah keindahan itu tak lagi seperti adanya karena begitu diperhatikan (baca: dirusak tanpa sadar disengaja karena kurangnya kepedulian). Paragraf ini adalah keresahan sekaligus rasa bersalah teman-teman karena memberitakan perihal keindahan yang kini ditemui pudar. 

Spermonde adalah istilah dari bahasa Belanda yang diberikan kepada gugusan pulau-pulau yang membentang di Barat daya pulau Sulawesi mulai dari Takalar di bagian selatan hingga ke Pare-Pare di bagian utara. Dinamakan spermonde karena jika dilihat dari atas, gugusan kepulauan ini memang menyerupai bentuk sperma. Spermonde terdiri dari kurang lebih 130 pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni [1]. Sejauh pengetahuan informasi dan pandangan mata, kebanyakan dari pulau-pulau di Spermonde berpasir putih dan masuk dalam gugusan terumbu karang (coral reefs) yang merupakan rumah bagi ikan-ikan berbagai jenis. Kekayaan keanekaragaman hayati ini, sejak tahunan yang lalu menjadi perhatian pariwisata dan dilirik pecinta-pecinta pantai nusantara. Nama Samalona yang membiru di arciphelago nusantara hanyalah satu diantara ratusan keindahan di zona taman laut Spermonde. 

Secara administratif kebanyakan pulau di Spermonde masuk dalam wilayah Kab. Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Namun akses menuju kesana sangat mudah kita jumpai melalui dermaga atau pelabuhan di Kota Makassar, seperti: Dermaga Kayu Bangkoa, dermaga Panyyua dan dermaga Popsa di dekat benteng Rotterdam, Pelabuhan Tradisional Paotere, Dermaga Galangan Kapal, dan Dermaga Barombong. Untuk tarif silahkan bernegoisasi dengan pemilik kapal, setahu saya belum ada tari resmi untuk jasa penyewaan perahu maupun tarif regular ke pulau-pulau. Bagi para pendatang dari luar Makassar, tak perlu takut akan dibodoh-bodohi, masyarakat pulau umumnya masih memegang erat kearifan lokal, ramah dan bersahabat. Bahkan, kalau sekedar tempat menginap di pulau berpenghuni, si nahkoda kapal biasanya menawarkan rumah untuk ditempati dengan fasilitas seadanya. Fasilitas standar yang disediakan pihak resort cuma ada di Pulau Samalona, Kapoposang, dan Panambungan. Selebihnya bawa tenda, dan hammock :)

Kepopuleran kepulauan Spermonde ini semakin lengkap setelah diadakannya Festival Pulau Sanrobengi yang diadakan 11 Oktober kemarin. Event kebudayaan dan pariwisata yang diadakan sebagai ajang perkenalan dan pendalaman keanekaragaman masyarakat pulau. Sungguh banyak cerita yang dibuat tentang ketakjuban Spermonde. Sebut saja landmark pulau 'romantis' Cangke', Diving di Samalona, Kodingareng Keke, dan Kapoposang, cerita Neneka (whale shark) yang muncul periode September - November di perairan Kapoposang, atau sekedar bersnorkling ria, beach camp, wisata pantai lainnya, sudah menjamur di jagad artikel dan menjadi cerita menarik di grup komunitas pejalan. Ya, Makassar kini melek pantai, sebuah alarm berbahaya jika tak ditanggapi serius,  bagi yang meng-kekasihkan alam sebagai manifestasi keindahan ilahi..


Penghuni Dermaga Pulau Badi'

Pusat konservasi terumbu karang berada di Pulau Badi dan Barrang Lompo', selebihnya ada beberapa perlakuan transplantasi karang yang dilakukan oleh peneliti dari akademisi, profesional maupun dari komunitas. Tapi jangan kira, kehancuran ekosistem terumbu karang juga menjadi fakta yang belum ditanggapi serius oleh pihak berwenang. Monitoring secara pribadi dan periodik selama tiga tahun terakhir, kerusakan karang semakin menjadi dibandingkan upaya pelestariannya. Bom ikan, bius, jangkar kapal, dan ulah penggiat alam bawah laut yang menginjak-injak terumbu karang sangat massif kita temui. Mungkin sebagian orang berpendapat bahwa pihak yang paling bertanggungjawab terhadap upaya pelestarian adalah pemerintah, akademisi, ataupun komunitas alam, sesungguhnya hal tersebut adalah cara pandang yang salah. Saya ingat dan tercerahkan dengan adagium kampanye pelestarian dari Taman Nasional Takabonerate, "save the people not the coral", artinya selamatkan orang-orang dari kebodohan yang sengaja atau tidak merusak karang. Memang betul jika karang akan bertumbuh lagi, dengan perlakuan terbaik pun, pertumbuhannya tetap lambat, maksimum dua cm pertahun (2cm/tahun) ! [2] Jadi, ketika kita menginjak karang yang setinggi 10 cm, butuh waktu 5 (lima) tahun untuk mengembalikannya. Jika benar anda senang bermain dengan ikan-ikan dengan terumbu karang yang sehat, lanjutkanlah kampanye ini. Biarpun pengetahuan kita diperoleh tidak mengikuti kuliah tentang ini, dan tetap ingin membagikan cerita ini kepada rekan kita, anak cucu dan masa depan kita, maka lanjutkanlah kampanye ini. Sampaikanlah dengan bersemangat, seperti saat kita mengunggah keindahan di khalayak...


Underwater Pulau Kodingareng Keke kedalaman 3 meter

Berbagi cerita itu, bukan hanya menyegarkan jiwa, tapi turut berbagi tentang resahnya hati.
Setelah berbulan-bulan draft tulisan ini akhirnya kuselesaikan, ketakutan tadinya membuahkan harapan. Sedikit banyaknya kekuatiran itu akan berguna jika di-bumikan, ingat keindahan tak butuh diperhatikan.. Selamat hari blogger nasional.. :)

                                                                                                                   Macz Indie, 27 Oktober 2014

Pranala luar :
- Spermonde dalam Geografi , Spermonde Archipelago 
- Gugusan Spermonde : Daenggassing 
- Spermonde Archipelago : Sumarjito 
- Wisata Kepulauan Sulawesi : Wisata Sulawesi

Minggu, 21 September 2014

Don't Panic, Just Do It !!!

Banyak yang memulainya dari keraguan.
Dari tempo yang berulang saya banyak berpikir tentang kematian.
Sebuah akhir rahasia yang tak akan pernah ku tau jawabnya..
Saya mencoba memikirkan hal yang paling tak ku ingini.
Berpikir bagaimana posisi diriku ketika kematian menghampiri.
Kemana lagi kosmologi pikiran yang seperti biasanya?

Kemudian apakah dunia berlanjut ketika kepastian mendekatiku, yakni kematian?
Sangat menyakitkan, ketika saya mencoba mengingkari eksistensi diriku.
Sungguh meyayat perasaan, ketika tahu bahwa pikiran ini akan hilang, dunia ini akan lenyap dalam satu parameter waktu yang tak diketahui kapan tiba.
Lantas ketakutan menghampiri, takut untuk mati ketika kematian itu belum diterima sebagai kepastian, sebuah kebenaran yang dimana kala ini hanya dianggap sederet kata bahasa saja.

Terkadang ketika semakin dekat, dalam kontemplasi panjang, segala sesuatu yang bermateri malah menjauh, seakan tak lagi kupijaki dunia yang sangat indah ini. Saya tidak ingin berkata bahwa saya lelah memikirkan ini kemudian menyerah begitu saja.
Saya yakin bahwa pemikiran seperti ini sudah berusia dimana sejarah umat manusia itu ada. Namun saya tak puas dengan segala penjelasan buku dan cerita orang pengalaman. Pemikiran ini terus mengangguku, semakin jauh dan itu semakin nyata. Sangat jauh, mencari pintu rumah sang penguasa atas segala jawaban keresahan.
Namun, disaat saya semakin tenggelam didalam kalutnya pemikiran ini, seolah-olah ada energi positif yang terus bersinar diantara gelapnya badai pemikiran itu.

 photographer by Yani Pindy


Bahwa aku ada..
Bahwa hidup, mestilah diperjuangkan..
Jika tidak, maka sebenarnya kita inilah hanyalah mimpi2 yang indah dari sang mahakarya pembuat zaman. Lebih jauhnya, bahwa kita berusaha mencari jawaban dari sang pemilik rahasia. Menelusuri segala kitab, mencari petuah sang bijak, berayun dalam keterbatasan pemikiran-pemikiran yang sungguh liar. Ketika getaran-getaran asa tumbuh di ketandusan rasa di lini masa.
Pintu rumah itu kini kutemukan, dengan segala kesanggupan kini kugedor lantang pintu rumah itu.
Lantas, apakah ada jawaban?
Atau, sebenarnya sedari dulu pintu ini telah kugedor lancang dari dalam???

Bahwa hidup, adalah keseimbangan..
Saya menyerah, ketika sadar dan telak menerima bahwa segala sesuatunya seimbang. Galaksi, putaran planet, system tata surya, adalah keseimbangan yang membantu kehidupan. Gempa bumi, tanah longsor, abrasi pantai, pemanasan global, dan berbagai fakta alamiah lainnya menunjukkan keseimbangan yang nyata. Revolusi, reformasi, Negara, masyarakat, segala bentuk paham dan sekte pemikiran adalah cara-cara manusia mempertahankan keseimbangan.
Malahan saya ini, kamu itu, adalah bagian yang lebih kecil, sangat kecil, dari partikel debu semesta. Kita hanya perlu menyadarinya. Dan terlebih daripada itu, tulisan ini hanyalah karangan belaka. Sebuah asa yang bertumbuh dari waktu ke waktu. Sebuah rasa yang bahkan bisa melebihi dari luasnya dunia ini.

Lalu kuseruput lagi kopi dingin tadi malam.
Matahari sore ini begitu hangat,
So, don’t panic, just do it !!!


Minggu, 21 September 2014

16.50 WITA

Sabtu, 26 Juli 2014

Island Hopping : Komodo National Park

"Karena kami percaya, seperti halnya matahari, Indonesia ini akan terbit dari timur"
 - Ramya Prajna

Senja mengantarkan, untuk tiba di destinasi terakhir trip jelajah Flores awal tahun ini. Mengarungi perjalanan dari Bajawa ke Labuan Bajo dengan menumpang truk, pick up dan sesekali menggunakan jasa angkut adalah ciri khas dalam catatan perjalanan ini. Dari perjalanan panjang setelah mengunjungi desa adat Bena di Bajawa, fisik beradu diantara deru mesin yang menggiring kami menuju sekelumit pandang keindahan sang raksasa tertidur, Indonesia. Ada perasaan haru, saat melintas di pertigaan menuju kampung adat Waerebo, harapan untuk melangkahkan kaki dibatasi oleh estimasi waktu dalam petualangan terbatas ini. Disela musim penghujan di bulan Januari, pandangan menatap lurus, mencari ujung dari daratan Flores.

Minggu, 20 Juli 2014

Baronda Namrole, Buru Selatan

Terjebak diantara kesunyian dan hasrat metropolitan.
Saya mulai nyaman, dengan kehidupan para nelayan.
Hidup dengan pertaruhan alam.
Demi kebutuhan sandang dan papan.

Anak-anak mesti sekolah, mesti sorenya mencari kerang.
Diantara ganas ombak yang garang.
Kehidupan seperti bola berputar kencang kearah gawang.
Demi esok hari, diatas meja terdapat daun bawang.

Diujung dermaga beratap bintang,
Musim timur segeralah pulang...

¬ Namrole, 27 Juni 2014, 22.40 WIT 


Hari masih pagi, ketika itu dibangsal penumpang KM. Elizabeth 2 yang semalam lepas dari pelabuhan Ambon, Maluku.Ombak di musim timur sukses membuatku mabuk laut, perjalanan 12 jam menuju pulau Buru cukup mengguncang manusia-manusia dalam besi mengapung itu. Ketika menyapa mentari, sudah nampak pula daratan pulau tujuan, tepatnya di selat antara pulau Buru dan Ambalao. Awan mendung yang seolah mengatapi deretan pulau Buru dengan pegunungannya cadas, tempat dimana ribuan orang diasingkan di era orde baru, yang katanya terlibat dalam gerakan komunis terlarang di jamannya.Sekilas nampak terdengar menyeramkan, apalagi mengingat tragedi kerusuhan di hampir seluruh penjuru Maluku beberapa tahun silam. Tapi cerita itu hanyalah alamat masa lalu, kini Maluku terus berbenah, dengan potensi wisata yang luar biasa, pembangunan infrastruktur, perbaikan kualitas pendidikan, merevitalisasi potensi mata pencaharian penduduk atau bukankah Maluku adalah pintu gerbang strategis rempah-rempah dunia di masa yang lalu?


Kamis, 12 Juni 2014

Book Review : Ziarah Ke Makam Tuhan




Sekian lama, setelah saya membaca kembali buku digital Bung Amin, yang saya kenal dengan gagasan kosmologi, ide progresif futuristik, aktivis anti-sara, bahkan sangat provokatif. Walau tak pernah bertemu langsung, sedikit banyaknya saya pribadi menjumpai gagasan-gagasan tadi lewat akun jejaring sosial. Membicarakan sosok Bung Amin dari citra media, tidaklah begitu sulit, beliau aktif memberikan beberapa ulasan dan gagasan terkait fenomena yang terjadi, terlebih kepada sains, konflik SARA, politik negeri, sampai kepada puisi-puisi sarat makna. Satu hal yang perlu kita hindari sebelum membaca buku ini adalah, jangan terpaku terhadap hal yang sifatnya kaku, seperti dogma agama, ideologi politik, gerakan mainstream dan sejenisnya. Jika tidak, membaca buku ini akan mempermalukan diri sendiri.

Buku digital versi pdf ini berjumlah 101 halaman, 23 kumpulan cerita yang umumnya berbentuk cerita pendek, atau dialogis. Dengan bahasa yang elok dan santai, membaca buku ini akan membuka cakrawala berfikir kita, percayalah. Dalam artian, tinjauan pengetahuan yang radikal akan membawa  kita untuk lebih memahami suatu persolan secara filosofi. Seperti cuplikan dibawah ini, dalam chapter Konferensi Lintas Dimensi.

Selasa, 27 Mei 2014

Berbagi dengan Alam | Pulau Kodingareng Keke | Kep. Spermonde

Suatu hal yang indah, tak ingin diperhatikan...
Apakah kita sepaham ?

"Waktu masih kecil dulu, ikan nemo masih biasa kita temukan di pantai Losari" cerita seorang warga saat bincang-bincang Makassar tempo dulu. Telak kita harus mengakui bahwa seiring kemajuan zaman, kebutuhan manusia juga meningkat mulai dari pembangunan infrastruktur, eksplorasi sumber daya alam, pengembangan kawasan wisata, sampai kepada dekontruksi budaya. Ironinya, tidak banyak dari kita yang berpikir bahwa segala sesuatunya mesti 'seimbang', dimulai dari manusia dan akhirnya berakibat kepada manusia juga. Ketidakpuasan dan kesadaran minim adalah hal yang justru banyak kita temukan. Ruang aktualisasi yang sedemikian terbuka lebar (sosial media) membuat kita bergerak intuitif tanpa kesadaran 'seimbang'. Alam yang sudah sedemikian rusak selalu beradaptasi menjaga keseimbangan itu sendiri, lalu kita menyebutnya sebagai bencana alam, bukan bencana manusia. Pemanasan global, tanah longsor, banjir bandang, abrasi pantai, gunung meletus, adalah cara alam memulihkan dirinya.

Siapa yang membantah, kalau berbicara alam Indonesia seakan tak ada habisnya. Kerusakan alamnya juga demikian, berikut pula menjamurnya komunitas penggiat alam. Fenomena penggiat alam ini harusnya disandingkan dengan kesadaran futuristik, bahwa keindahan itu tak butuh diperhatikan, dalam arti kita harus menjaga segala bentuk keasliannya. Dengan begitu, sedikit banyaknya kita bukanlah pihak yang terlibat langsung dengan pengrusakan, terkadang kita ingin memperkenalkan, membagikan kecantikan alam, namun secara tidak sadar malah merusaknya.



Konteks melestarikan alam berbeda dengan, "budaya melestarikan alam". Budaya melestarikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, atau tanggungjawab komunitas penggiat alam, namun juga tanggungjawab individu manusia. Karena tak mungkin penyu laut memungut sampah plastik atau menanam pohon demi menjaga ekosistem. Seharusnya kita banyak belajar dari alam, bukan hanya pada persoalan "science" tapi juga membantu "self-healing" agar tak menjadi bencana buat kita. Bukan karena uang, melainkan untuk ekspektasi kebanggaan 'tanah kita, tanah surga'...

Berikut dokumentasi video dari kegiatan komunitas Makassar Backpacker, Berbagi dengan Alam di Pulau Kodingareng Keke. 17-18 Mei 2014..



Jangan berpikir melakukan hal yang besar, ketika hal kecil pun tak mampu kita lakukan..
Maka berpartisipasilah.. :)

Catatan:
- Master plan gathering creator : Ippang & Appung
- Pulau 'tak berpenghuni' Kodingareng Keke adalah salah satu pulau dari gugusan karang kepulauan Spermonde, akses transportasi mudah kita dapatkan di Dermaga Kayu Bangkoa, Dermaga Pannyyua, atau Pelabuhan Paotere Makassar. Dengan perahu sewaan kita dapat merapat ke dermaga Kodingareng Keke dengan waktu tempuh 45 menit. Silahkan berkunjung dan berkontribusilah terhadap konservasi keindahan alam..



Jumat, 09 Mei 2014

Bena, Kampung Adat Megalith di Lembah Inerie

Lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, mati di Indonesia..
Sedihnya umur..
Mari keluar berpetualang, menjelajah,
Menemukan harta karun kehidupan di berbagai belahan Bumi.
Bukankah kita tidak sedang dipenjara ?
~IK tour the world~



Indonesia adalah negara dengan 350 kelompok etnis, sangat menarik tentunya mencari tahu, menjelajahi keanekaragam budaya nusantara yang cenderung masih asli. Menjamah kehidupan masyarakat yang jauh dari peradaban dan teknologi, merupakan gairah tersendiri buat kita yang ingin mengenal khasanah kekayaan negeri. Menoleh kekanan peta Indonesia, tepatnya di pulau Flores - Nusa Tenggara Timur, betapa unik subur dan ragam budaya di salah satu kawasan timur ini. Bagaimana tidak, Flores termasuk dalam jajaran rangkaian gunung api, karakter budaya yang masih kental, serta memiliki kawasan wisata alam yang dikenal unik dan khas.

Truk yang kami tumpangi menurunkan di pertigaan gelap Bajawa-Aimere. Lapar, lalu seorang kawan mencari-cari disekitar apa yang bisa dimakan. Sambil berlalu dengan meminjam motor milik warga, yang lain mengeluarkan kompor dan masak air panas, menyeruput kopi di teras warung yang sudah tutup adalah impian yang haeus segera ditunaikan, mengusir hawa dingin, dan mengurangi sugesti lapar.  Tengah malam pula, satu-satunya warung yang terbuka jauh dari tempat kami bergumul didekat kompor hanya warung yang melayani masakan daging anjing, asik betul, sayangnya keadaan belum begitu mendesak sehingga belum dibolehkan, dan sayangnya lagi kopi tumbuk yang sempat dibeli di pasar Geliting-Maumere, rupanya habis dipakai pesta pergantian tahun di Moni - Kelimutu. Ya, ini adalah masih bagian dari rangkaian perjalanan SparklingMB, menjelajah sekelumit keajaiban Flores.

Bajawa Kota Dingin, begitulah yang terpampang di landmark ketika kita memasuki kota ini. Penduduk asli mayoritas beragama Nasrani bersuku Bajawa (bhajawa - bha: piring - djawa: perdamaian). Kota yang ramah, berhawa sejuk, dan hanya ada 1 masjid. Tidak banyak yang dikunjungi disekitar kota ini, setelah menginap semalam dan paginya kita berjalan menyusuri jalan sepi kota, dan bercengkrama dengan penduduk. Disela kabut tipis pagi itu, nampak keperkasaan gunung Inerie, yang diyakini penduduk setempat sebagai singgahsana dewa Yeta, sang pelindung kampung. Dilembah gunung itulah terdapat sebuah desa adat megalitikum, dengan ciri khas masyarakat pemuja gunung, kampung Bena..


Setelah sukses melobi pick-up milik warga, tim SparklingMB bergerak 19 km dari Bajawa menuju kampung Bena. Gerimis tak mengurungkan niat untuk membelah hutan tropis, jalan berkelok, dan sesekali disertai tanjakan ekstrim. Bau busuk kampas rem yang bekerja keras mengangkut 15 orang semakin melengkapi aroma petualangan pagi itu, semakin dekat dengan lansekap kerucut gunung Inerie. Melewati turunan bukit, nampaklah rumah beratap ijuk, bertiang tunggal dan tata letak rumah yang berjumlah 40 menyerupai perahu. Hujan deras menyambut, flysheet dibuka dan masing-masing berlarian menuju bhaga (rumah berpenghuni) yang menjual pernak-pernik khas perkampungan itu. Mulai dari maket perkampungan yang berbahan kayu, gigi babi rusa, gelang dan kalung bermata uang logam, gelang dan aksesoris adat lainnya. Sejak dicalokan menjadi salah satu situs warisan dunia, UNESCO, pada tahun 1995, warga sudah terbiasa melayani para pelancong, bahasa Indonesia yang lancar, warga yang sudah pandai bergaya depan kamera adalah buktinya.




Hujan reda, cahaya matahari mulai mengintip. Cerita dengan pak tua penjual aksesoris memberikan banyak informasi tentang kampung Bena ini. Di dekat gerbang terdapat bhaga yang tampak masih baru, katanya untuk material dan ukiran saja nilai bangunan ini seharga mobil innova. Belum lagi pesta masuk rumah yang anggaran biayanya hampir seharga rumahnya. Setiap bhaga diisi oleh satu klan, dengan tanda boneka perempuan di bubungan rumah-rumah kampung Bena, ini artinya kekerabatan menganut sistem matriarkat (perempuan sebagai kepala keluarga). Pekerjaan sehari-hari perempuan kampung Bena adalah menenun, sedangkan laki-laki kebanyakan berladang. Setelah berpamitan dan memberikan sumbangan ala kadarnya untuk memasuki kawasan situs kepada kepala dusun, tim bergegas mengecap khasanah kebudayaan megalitikum di kampung Bena ini.


Hal yang menarik perhatian saat menaiki anak tangga yang ternyata merangkap fungsi sebagai drainase karena kontur tanah yang berada di wilayah perbukitan. Karena tidak lama kita melihat air tergenang yang memantulkan bayangan objek. Kita akan banyak menemukan sisa peninggalan kebudayaan megalitikum seperti menhir, dolmen, dan kuburan para leluhur. Selain bhaga, terdapat juga pondok kecil bertiang tunggal dan beratap ijuk, ngadhu, sepintas terlihat seperti pondok berteduh, padahal fungsi dari bangunan ini sebagai bukan sebagai hunian, melainkan untuk menaruh hewan kurban saat diselenggarakan pesta adat. Sementara di teras rumah kita dapat menyaksikan perempuan-perempuan Bena menenun sarung, selendang, dan kain untuk keperluan adat. Kini, sangat jarang kita temukan kain tenun yang menggunakan pewarna alami, yah karena unsur pewarna alam ini mulai sulit didapatkan. Konon kabarnya, di pulau Alor masih ada beberapa yang menggunakan pewarna alam dari habitat laut. Meskipun memakai benang tekstil, satu buah sarung bisa memakan waktu seminggu masa penenunan, inilah sebab mengapa harga kain tenun cenderung mahal. Hasil tenunan ini merupakan penunjang ekonomi keluarga.


Sampai di ujung perkampungan, yang berada dipuncak bukit, suguhan pemandangan alam lembah gunung Inerie dan sisi sebelah barat lansekap kampung, sangat meneduhkan. Aroma alam yang segar dan arsitektur perkampungan membawa pikiran melayang kekampung seberang. Ada sepotong rindu yang kutitip tinggal disini.







Bena Traditional Village


- Instagram @aldjapari tagar #SparklingMB #visitFLORES

- Behind camera @Rahmayani @Ron @Saldi



Selasa, 22 April 2014

#SparklingMB : Dari Ende, Untuk Indonesia.

Sebuah perjalanan,
Sulit dikotakkan dalam 'pixel-rate..
Atau terukur dalam memory 'mega-gygabite..
Maka berjalanlah, senangi pancaindera..
Menguji batas, membuat batasan baru..
Menjinakkan kerasan hati..
Lalu temuilah dirimu..
@aldjapari

Lepas dari cerita perjalanan sebelumnya : merobek sunyi di ketinggian Kelimutu dalam edisi #SparklingMB, menempuh perjalanan dari desa Moni ke kota Ende tim terakhir yang mendapat tumpangan menempuh perjalanan sekitar enam jam. Berjalan kaki sekitar 6 km, mendapat tumpangan truk untuk sesaat perjalanan dan akhirnya siapa yang mengira, petugas pos Kelimutu dari Kehutanan Ende yang dijumpai di pagi sebelumnya 'memungut' kami yang tengah asik meramu kopi di pinggir jalan. 


Sangat sulit mendapatkan tumpangan di hari raya Tahun baru. Maklumlah, penduduk mayoritas Nusa Tenggara beragama Nasrani. Oto call pada libur. 

DARI ENDE, UNTUK INDONESIA ~ Selamat Datang di Tempat Pengasingan Soekarno.
Seperti itulah gumaman hati, ketika mobil Ranger Kehutanan melintas di gerbang kota Ende. Meeting Point selanjutnya adalah monumen Pancasila yang berada di pertigaan sebelum memasuki pusat kota. Teman-teman #SparklingMB yang lain sudah duluan tiba ternyata sebagian sudah ada yang City Tour, mengunjungi toko kerajinan tak jauh dari tempat pertemuan tadi. Dari cerita kawan, ada satu yang menarik, Tenunan khas NTT ! Tapi mahal.. Heuheu.. Lelah begitu terasa setelah membaringkan badan dirumah kerabat kak Yanti. Hari esok tentu menjanjikan keseruan petualangan.

Tidak begitu lama menanti pagi hari. Hasil briefing semalam, membuat agenda tim membatalkan kunjungan desa Waerebo. Tentu saja estimasi waktu dan biaya tidak mencukupi. Namun dalam hati saya berpikir, bahwa suatu saat saya akan kembali kesini, menyaksikan kembali segala keunikan dan keramahan Nusa Tenggara. Seolah-olah pada waktu itu, saya merindukan sesuatu yang belum ditinggalkan. Secerah pagi, tergambar di raut wajah tim saat mulai melangkahkan kaki menuju mobil sewaan yang mengantarkan ke pusat kota. Walaupun seorang anggota tim, kak Dija terserang demam, namun semangat positif mengiring melakukan perjalanan.

Berikut spot wisata (sekitar kota) rekaman #SparklingMB :
1. Pasar Sarung 
    Tidaklah sulit menemukan lokasi Pasar Sarung Ende, dengan mikrolet rombongan menuju ke salah satu tempat memasarkan karya tenun masyarakat Flores terkhusus di Ende. Di setiap kota kabupaten di NTT, sarung tenun ikat mempunyai gaya dan keunikan tersendiri. Di pasar ikan Geliting Maumere juga terdapat 'mama' yang menjual sarung tenun.

Pasar Sarung Ende



2. Taman Pancasila Soekarno
     Siapa yang tidak mengenal Pancasila, ideologi bangsa ini, Indonesia. Dibawah pohon sukun menghadap pantai, itulah tempat Soekarno dalam masa pengasingannya merumuskan ide mengenai butir-butir Pancasila. Pohon Sukun yang berbatang lima, diperkirakan menjadi ilham membuat 'panca' dalam sila ideologi bangsa. Walaupun kini pohon sukun yang dulunya sudah mati, tapi bibit baru ditanam dan dirangkai serupa aslinya. Kekayaan cagar budaya harus tetap dijaga. Sangat menarik tentunya. Namun, pada saat tim kesana (2 Januari 2014), situs sedang masa rehabilitasi. Menurut salah seorang warga, rehabilitasi situs-situs Bung Karno di Ende merupakan janji Wapres Boediono saat berkampanye pada saat itu. Yah begitulah, kita tidak seharusnya ahistory, karena kita hari ini adalah hasil dari sejarah panjang kehidupan. Adakah yang bisa berlari dari masa lalu? hehe..


Patung Soekarno dan Pohon Sukun "Pancasila"
(sumber foto : Travel Kompas )

3. Situs Rumah Pengasingan Bung Karno
    Berjarak sekitar 100 meter dari pohon Pancasila tadi kita menjumpai rumah pengasingan Bung Karno (th. 1933-1937) sebagai tahanan politik oleh pemerintah Hindia Belanda. Bangunan bercat putih, masih dipertahankan pula gaya arsitektur Belandanya, serta lansekap yang tertata dan terawat, menawan. Sayangnya, keberuntungan belum memihak, penjaga situs tidak berada di tempat. Walaupun menyaksikannya dari luar, aura sejarah dan pesona kebangsaan begitu terasa. 


Rumah Pengasingan Soekarno (1933-1937)


Diantara situs taman pancasila dan rumah pengasingan, kita dapat mengorek informasi lebih di Flores Tourism. Penjaganya ramah dan siap meladeni kawan-kawan. :)



4. Pantai Batu Hijau
    Saat menunggu tumpangan mengarah keluar kota Ende arah ke Bajawa, dipinggir jalan terdapat pantai dengan batu-batu berwarna yang didominasi warna hijau. Entah apa yang menyebabkannya, yang jelas inilah keunikan dari pantai ini. Sebagian besar dari batu pantai ini dikumpul dan dimasukkan kedalam karung-karung untuk dijual.




Pantai Batu Hijau


Thanks for all best, ENDE !!!



- Instagram @aldjapari #SparklingMB #visitFLORES
- Behind camera @rahmayani @ron





Rabu, 16 April 2014

Postingan Tertunda : Filsafat Cinta CS. Lewis

"Jika dalam batas rasionalku cinta itu tidak ada, maka boleh benar cinta itu bertindak irrasional"

Soal Rasa..
Kajian eksentrik tentang rasa..atau kajian yang hanya sensitifitas org yang bisa mengatai..saya yakin semua nama pasti ada penjelsannya, begitupun dengan kata...setiap kata (yang pastinya punya sejarah yang rumit) pasti beralasan..sama halnya dengan rasa... bisa saya katakan, kalau rasa itu tergantung persepsi orang, tergantung orang mendefinisikannya, atau memaknai, atau yg me'rasa'kan rasa itu sendiri.. dalam kajian filsafat, rasa termasuk dalam kajian aksiologi, estetika, bagaimana penilaian seseorang ttg indah buruk, cantik jelek, dan sejenisnya... tapi rasa, entah itu di indentikkan dengan cinta (yang sya pun masih ragu, dalam realitas barang ini tentu tidak ada) ataupun kasihsayang (sy cenderung sepakat dgn ini)..

Mungkin dengan contoh ini bisa sedikit mencerahakan (hanya upaya, walaupun sy jg msh kurang);

Sebenarnya saya sangat tertarik dalam pembahasan CS.Lewis tentang four loves; eros, philia, agape, storge. Dalam penjelesannya, katanya Yesus menanyakan ke slah satu muridnya, tentang kasihnya, dengan ucapan cintanya yang beda setiap kali diucapkan... menarik sekali...
Bahwa jauh sebelum ini, saya berpikir kalau cinta sesama makhluk itu tidak ada, karena kalau tidak didasari hawa nafsu, ya apalagi, hampir semua berbau kepentingan.. maka pada saat itu, sy berkesimpulan bahwa, cinta itu agung, hanya ADA antara pencipta dan ciptaan, tidak lebih...
Namun juga memungkinan ada betulnya, misalnya jika istilah cinta dalam yunani dibagi menurut kondisinya...

Penjelasan menurut teologi katolik mungkin seperti ini :
"Menurut Paus Benediktus XVI, eros adalah kasih antara pria dan wanita di mana kasih tersebut tidak direncanakan ataupun diinginkan, namun sepertinya tertanam di dalam diri manusia itu. Sedangkan philia adalah kasih persahabatan yang sering dipakai untuk menggambarkan kasih antara Kristus dan para murid-Nya, dan agape adalah kasih menurut pengertian Kristiani (lih. DCe, 3), yang mengacu kepada kasih yang rela berkorban (lih. DCe, 7).dalam perikop Yoh 21:15-19. Di sana Yesus bertanya sebanyak tiga kali kepada Rasul Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Pertanyaan Yesus yang pertama dan kedua menggunakan kataagape, Apakah engkau mengasihi (agapo) Aku? Namun Petrus selalu menjawabnya dengan, “….Engkau tahu bahwa aku mengasihi (philieo) Engkau”. Yang ketiga kalinya, Yesus bertanya, “Apakah engkau mangasihi (phileo) Aku?” Dan Petrus menjawab, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yoh 21:17). (Sumber: Katolisitas.org)

Menurut Wikipedia :
Penggunaan istilah cinta dalam masyarakat Indonesia dan Malaysia lebih dipengaruhi perkataan love dalam bahasa Inggris. Love digunakan dalam semua amalan dan arti untuk eros, philia, agape dan storge. Namun demikian perkataan-perkataan yang lebih sesuai masih ditemui dalam bahasa serantau dan dijelaskan seperti berikut:
  • Cinta yang lebih cenderung kepada romantis, asmara dan hawa nafsu, eros
  • Sayang yang lebih cenderung kepada teman-teman dan keluarga, philia
  • Kasih yang lebih cenderung kepada keluarga dan Tuhan, agape
  • Semangat nusa yang lebih cenderung kepada patriotisme, nasionalisme dan narsisme,  

Afeksi berasal dari bahasa Yunani storge. Storge mulanya merupakan gambaran tentang cinta afeksi dari orang tua terhadap anak dan cinta anak terhadap orang tua. Sebab, pada dasarnya, afeksi tidak muncul dari apresiasi, tetapi afeksi memimpin kepada apresiasi. Afeksi adalah elemen dasar dalam cinta eros.

Tulisan ini masih dalam bentuk draft semenjak 24 Maret 2012.
Mubasir kalau tidak diposting. Hehe

Tambahan oleh editor.
Silahkan mendefinisikan cinta itu menurut pemahaman dan pengalaman anda dalm ber'cinta'.
Motivator Mario Teguh pun punya pendapat yang sama dgn CS. Lewis, mengelompokkan cinta secara kondisional.
Namun saya tidak. Dan saya punya alasan tersendiri berpendapat demikian. :P
Jika ingin berdiskusi lanjut, contact twitter @aldjapari :)

Senin, 17 Februari 2014

SAVE OKFT : Matinya Para Pejuang

Euforia kemenangan sudah akan datang, zaman sudah menikam pelan-pelan ide-ide dan semangat para pejuang yang sebentar lagi berakhir dengan tangan kosong dan cemoohan zaman. 
Dimana letak sandaran terbaik ?


#SAVEOKFT taken 19 September 2012

Saya heran teman-teman semakin asyik menghitung waktu seolah-olah hari-hari teknik akan berakhir.
Dimana letak keadilan lembaga, dimana letak kebesaran nama lembaga, kalau semua yang bergerak seakan-akan telah mati dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Etika dan moral menjadi sebuah diskusi yang alot, seolah-olah semua merasa benar dan ingin menjadi penggerak sejarah akan masa yang terang berderang  dari kejayaan fakultas teknik. Semua orang ingin dikatakan sebagai orang populer atau orang yang paling bertanggung jawab atas berubahnya panggung intelektual  yang luar biasa sebagai penangkap masa dari sebuah perjuangan yang berani.

Analisis peran dan pesimistis menghiasi kalangan optimistis buta dari kalangan penjuang, semua saling menyalakan dan tidak satupun yang mau menjadi sebuah penggerak dari sebuah kemajuan. Mungkin karena tidak punya tujuan atau mungkin karena tidak adanya harapan lagi dari semangat pejuang lembaga.

Sekali-kali pikiran ini dirasuki oleh pikiran jahat, kenapa tidak kamu hancurkan saja musuh-musuh yang menghadang misimu itu anak muda?
kalian punya modal adalah berani atau mati,.
Saya tidak menyuruh kalian untuk maju dan membakar sesuatu,..

Saya Cuma mau kalian tahu,  bahwa hari ini teknik sangat sepi,. Ruang-ruang senat hanya dijadikan tempat tidur dan menghabiskan waktu untuk melakukan tindakan yang tidak produktif sedangkan himpunan-himpunan dijadikan tempat menuggu kepastian dan kerja tugas oleh teman-teman yang ingin bertemu dan mendapat informasi mengenai keilmuan jurusannya dan yang lainnya hanya menjadi penonton kejauhan yang sukanya ngoceh kiri-kanan seolah ngerti apa yang menjadi persoalan dan bagaimana solusi persoalan itu,. ?

Hey,.. antek!

Apakah kamu tidak malu,.
Hari ini teknik hanya menjadi penonton dalam panggung kepentingan para penggerak zaman,
Apakah kamu tidak malu,..

Adik-adik kamu ditempat yang menghabiskan uang triliunan rupiah melakukan tindakan amoral dan saling bertengkar sesama karena tidak adanya sistem yang menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran,


“Semoga ide hebat para pejuang bukan Cuma milik pejuang tetapi milik semua orang dalam sebuah bingkisan civitas akademika kampus, kami Cuma mau tahu dan kami tidak ingin tahu ada sebuah kebohongan diantara para pejuang zaman”

Minggu, 10 November 2012
KASTRA SMFT-UH 2012/2013

Rabu, 12 Februari 2014

#SparklingMB : Merobek Sunyi di Ketinggian Kelimutu

Siapapun kita hari ini, berasal dari resultan keputusan-keputusan yang telah kita buat di masa lalu.
Inilah malam yang direncanakan, merobek sunyi di ketinggian Kelimutu..


Bersama senja terakhir di Tahun 2013, tim #SparklingMB meninggalkan kota Maumere. Kita akan bergerak ke sebuah desa bernama Moni, berada di lembah kawasan Taman Nasional Kelimutu. Mobil, truk ditumpangi, dari desa ke desa ditelusuri. Hari makin malam ketika tim mendapat tumpangan terakhir hari itu. Di pertigaan kami menunggu, dalam hati ada keresahan, sebentar malam adalah pergantian tahun, dan bagaimanapun kita harus merayakannya.  Sekitar 3 jam menunggu tumpangan di Desa Key, untuk menghindari tahun baruan di emperan toko, tim akhirnya memutuskan untuk mencari mobil sewa menuju Kelimutu. Dalam rencana, senja mengantarkan di penghujung tahun, dan akan kami sambut cahaya pertama di sebuah triangulasi kekayaan alam negeri, keajaiban danau tiga warna, Kelimutu.

Sukses melobi mobil sewa sampai mendapat potongan sebesar-besarnya, tim bergerak langsung menuju desa Moni. Rasa lelah mulai terasa, sesak karena mobil tumpangan biasa harus mengangkut 18 orang, belum lagi ransel-ransel mengambil tempat. Alhasil, kernet pun duduk di atas atap mobil, sementara jalan hampir menikung semua, mengerikan bagi yang belum terbiasa. Hehe. Membutuhkan waktu sekitar 3 jam menuju desa Moni, hawa dingin menusuk, kulit menebal akibat tekanan berganti. Tim berhenti di sebuah penginapan milik pemerintah, Saoria, katanya penginapan paling murah di seluruh Moni. Harga yang ditawarkan untuk peserta backpacker 150 ribu/hari dan bisa dimuat 3-4 orang. Agak lumayan juga tempatnya. Bungalow tua yang rapuh, namun bersahabat di harga dan elok di mata.


Desa Moni, tampak dari kejauhan penginapan Saoria

23.03 : Nampak gembel-gembel menuju kamar masing-masing.
23.35 : Tim kumpul disatu titik, beratapkan langit, tak ada bulan, hanya awan tipis kelabu. Memasak air lalu makan seadanya. Ya, saya hanya butuh KOPI.
23.55 : (belum ada kembang api) hanya dentuman meriam bambu bertalu-talu.. (suasana asli begini, tentu masuh nikmat)
00.02 : SELAMAT TAHUN BARU 2014 JJ .. Semua tim saling bersalaman, belum ada kembang api  L
00.12 : Akhirnya kami melihat kembang api dari dekat. Terima kasih tetangga.. hahaha  

Sesederhana itu, memperingati pergantian tahun dengan cara berbeda. Sambil menyeruput kopi, mencoba menggali kenangan tentang seperti apa diriku di tahun sebelumnya. Tahun lalu, yang dimulai juga dimulai dengan suasana seperti ini, di ketinggian Sesean-Tana Toraja, meneriakkan sejumlah harapan, yang paling teringat “sepertinya langkah-ku di tahun ini semakin panjang, jalan yang jauh terasa begitu dekat, semoga sarjana di tahun ini… “ 

Tim bergegas istirahat, selain karena lelah dan gerimis mulai turun, rencananya kita akan menyambut sinar matahari pertama dari puncak kelimutu. Waktu ideal untuk memperoleh sunrise dari basecamp Moni adalah pukul 4 pagi. Beruntung hari itu, di musim penghujan, tim #SparklingMB mendapatkan langit cerah, kabut masih tipis ketika jejak langkah kami tinggalkan dari pos ke pos menuju puncak. Ada kepuasan tersendiri, menyambut karya agung yang mahakuasa. Danau tiga warna Kelimutu, adalah salah satu destinasi utama dalam ekspedisi kali ini. Setelah membayar registrasi di posko masuk Taman Nasional Kelimutu, jalan menanjak menanti didepan, ada puluhan anak tangga yang dilewati kemudian setapak mengantarkan kita ke puncak.

Tim #SparklingMB ; 06.40 WITA



 Kelimutu's Story


Spot utama di ketinggian kelimutu adalah :
1. Mengawali hari dengan mengejar matahari terbit.

2. Triangulasi puncak Kelimutu 1639 mdpl. Biasanya tempat ini juga diadakan semacam ritual adat, sekitaran bulan agustus kalo gak salah.
Hey, pagi itu. 
3. Danau tiga warna (1 Januari 2014)
     3a. Tiwu Ata Mbupu : Danau warna hijau kehitaman ( danau untuk arwah para orang tua)



     3b. Tiwu Nuwa Muri Koo Fai : Danau warna biru muda ( danau untuk arwah muda-mudi )

     3c. Tiwu Ata Pulo : Danau warna hijau tua (danau untuk arwah orang jahat )

4. Didekat shelter peristirahatan terdapat area ritual. Hati-hati melangkah, ada edelweis di tempat ini.
5. Bila memungkinkan, bisa juga memberi makan untuk monyet-monyet.. Asal tidak kebanyakan..
6. Nikmatilah ngopi di ketinggian kelimutu. 5 ribu pergelas kok, sambil ngorek info dari ibu penjualnya. :)
7. Air Terjun Murundao dapat diakses 500 meter menurun dari penginapan Saoria. Airnya agak berbelerang. Lompat !
Lumayan membasuh keringat


Selepas mandi, kepak ransel.. We escape from the unique of Kelimutu..


Makassar Backpacker : Escape from Kelimutu 1 Januari 2014

Thanks to :
- Penjawab segala keraguan, pemilik segala kebenaran, penguasa segalanya - Allah SWT
- Makassar Backpacker : @mksbackpacker
- Floresian,
- all crew #SparklingMB - Eksplore the Extraordinary FLORES

- gambar tambahan bisa diakses di www.instagram.com/aldjapari gunakan hastag #visitFlores #SparklingMB
- cerita lainnya di blog om RON :)

(tulisan ini dibuat tanpa googling, mohon maaf jika ada perbedaan pandangan, murni kesalahan subjektif penulis)

Minggu, 12 Januari 2014

#SparklingMB MAUMERE - SIKKA

Irama musik alam..
Merdu tiada kira..
Segarkan hati dan pikiran..
Merapatkan setiap bulir rahasia...

- Terjebak dalam hutan belantara menuju Maumere.
Selepas perbatasan Larantuka - Maumere, kita akan menemukan sebuah pasar tradisional (sistem hari pasar diberlakukan), setelah melewati kawasan gunung api. Sepanjang jalan terlihat bahwa daerah ini begitu subur. Warganya yang ramah, melontarkan senyum, atau sekedar melontarkan pertanyaan. Pasar tradisional itu hanya terlewatkan, ada niat sih mencari tenunan khas, namun menurut informasi, di kota selanjutnya kita bahkan bisa menyaksikan bibi (sapaan untuk ibu-ibu) menenun aksesoris khas daerah. Kembali tim dipecah untuk efektifitas memperoleh tumpangan. Saya selalu memilih menjadi tim yang terakhir, hanya sekedar untuk lebih menikmati suasana. Beberapa buah nenas, hasil pemberian warga menjadi cemilan saat menunggu tumpangan menuju Maumere. Beberapa pick-up melintas, ada pengangkut ikan, pengangkut sapi, bahkan ada yang pengangkut babi (kita sudah diperingatkan keras oleh supir). Hari semakin sore, dan akhirnya sebuah pick-up kosong siap mengantarkan kami menuju gathering selanjutnya yaitu Pasar Ikan Geliting - Maumere. Yang terekam sangat jelas di perjalanan adalah kebun kelapa milik warga. Selepas pegunungan, berjejeran rapi pohon-pohon kelapa penghasil kopra. Sangat luas dan banyak, sayangnya tidak ada satupun yang terekam kamera, mobil tumpangan melaju dengan kecepatan tinggi saat itu. Selain perkebunan kopra dipinggir pantai menuju Maumere, kita juga akan menemukan beberapa sawah dan savana. Yah, sepertinya tidak salah mengatakan bahwa Flores ternyata daerah subur. :)



- Pasar Ikan Geliting.
Dengan berucap syukur dan terima kasih kepada supir tumpangan, akhirnya tim terakhir tiba di pasar ikan Geliting, 10-an km sebelum memasuki kota Maumere. Terletak di pinggir pesisir pantai, dan aktivitas pasar (bukan hanya tempat menjual ikan, namun lebih kepada situasi pasar pada umumnya), ada keramaian yang asing. Satu hal yang menjadi perhatian adalah bibi-bibi disini kebanyakan memakai sarung tenun untuk beraktivitas luar rumah. Penikmat sirih dan pinang juga masih banyak, dibandingkan dikampungku yang mulai tegerus arus modernisasi malah sirih-pinang mulai ditinggalkan. Tapi bukan berarti di Maumere ini juga belum terbelakang, namun saya kira beberapa warganya masih enggan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang terwariskan turun temurun. Hasil gathering dengan seluruh peserta, tim akhirnya memilih menginap disini. Tim cowok yang berjumlah tujuh orang akan menginap di masjid yang menghadap ke pantai (asyik), sedangkan yang cewek dibagi kerumah pak imam masjid dan keluarga kak Yanti. Di teras masjid, dan suara desiran ombak yang menghantam sea wall  dimalam sebelum tidur kita sempatkan untuk berkumpul (briefing) untuk mengevaluasi aktivitas hari ini dan untuk merencanakan kegiatan hari esok. Seorang penjaga masjid, Ibrahim, menemani bercerita malam itu. Ternyata dia berasal dari pulau Besar, di seberang pulau yang terlihat dari tempat ini. Datang untuk bersekolah katanya, juga berkat bimbingan pak imam masjid. Senang juga rasanya berkenalan dengan Ibrahim, pemuda Flores yang setidaknya berharap besar melalui pendidikan, sedari dini sudah mandiri, inilah hidup ! Sehabis bercerita, om Ron mulai bersantai di kantong tidur gantungnya, tak ketinggalan saya memilih di kursi karet, mencoba meresapi makna perjalanan ini, tak ada bintang, hanya angin kencang dan ombak yang menggulung menjawab segala jawaban keraguan hati. Tiba-tiba aku merasa ada rindu yang liar, kunikmati saja. Lalu malam pun merambat turun sampai akhirnya saya terbangunkan oleh shalawat masjid pertanda subuh mulai menjelang. Disaat yang lainnya tertidur selesai shalat Subuh, saya Om Ron, dan Faisal mengejar sun-rise, menyusuri pesisir pantai, melihat tumpukan sampah dan surutnya air menampakkan wajah karang-karang yang rusak. Selama kawu sodara (selamat pagi sahabat) :).



- Tanjung Kajawulu, Fotogenik Area.
Ada kenikmatan double pagi itu, sepulang mencari kopi asli dipasar, niatnya menyeduh kopi sendiri, ternyata kita sudah disuguhi teh dari tetangga masjid, ada lagi panggilan sarapan dari rumah pak imam, waduh jadi nggak enak. Hehe. Kita memang backpacker, tapi bukan selalu mengharap kebaikan orang bukan? tapi rejeki jangan ditolak lah. Irit bukan berarti segalanya harus gratis, tetapi meminimkan pengeluaran yang nggak perlu. thats the point. Pada intinya, apapun itu, mesti disyukuri karena semua orang punya hasrat berbuat baik. Setelah semuanya bersiap, pukul 8.30 Wita tim akhirnya berangkat menuju salah satu spot wisata terbaik Maumere, Tanjung Kajawulu, 30-an km dari pasar Geliting. Untuk menghemat pengeluaran kami menyewa pick-up dari toko bahan bangunan, teman perjalanan yang juga teman kuliah, Reza menjadi supir untuk perjalanan ini, karena memang cuma dia yang memiliki SIM. Hahaa
Tanjung Kajawulu adalah wilayah pesisir Maumere, akses mudah dari kota, jalannya mulus dan tidak ribet menuju kesana. Sulit mengungkapkan pesona pemandangan dari spot Tanjung Kajawulu. Jalanan yang menikung, bukit-bukit savana, pesisir pantai yang lautnya hijau menyerupai cangkang kerang (bikin gak nahan buat berenang), relief batu cadas yang menahan gulungan ombak, Keren pokoknya. Maka dari itu, menurut pandangan personal, dari semua lokasi yang dikunjungi tim #SparklingMB jelajah Flores, tempat inilah yang paling fotogenik. :)


landscape photos by Yani Rahman


Sementara itu, disaat yang lainnya asyik berenang, saya malah menaiki bukit savana bersama Reza, dan Faisal. Ratusan anak tangga menjulang keatas bukit, dan di puncaknya terdapat patung salib, landmark area ini. Mungkin saja tempat ini semacam area peribadatan. Namun sekilas dari jauh, tempat ini malah seperti kuburan dengan salib sebagai nisan. Amazing ! view pemandangan dari tempat ini sangat mengagumkan. Saatnya untuk mengabadikan..Saatnya ambil gaya.. Hahaha
























Semenjak pertengahan tahun 2012, saya menaruh perhatian besar terhadap underwater, semacam kecanduan begitu. Siapa juga sih yang tidak tertarik dengan hal yang menakjubkan. Meskipun cuma beberapa area yang disisir pas snorkeling kemarin, beberapa teman sukses mengambil foto karang yang ada. Tidak terlalu banyak karang yang bagus didaerah ini, kabanyakan malah hancur, entahlah. Tapi lumayan bikin puas. Ombaknya dan pasir putihnya juga keren :)


Underwater Tanjung Kajawulu


Kurang dari 12 jam lagi momentum pergantian tahun diperingati. Karena daerah Flores mayoritasnya beragama Nasrani, tim agak sulit untuk memperoleh tumpangan hari itu. Sementara rencana semalam, kita harus merayakan malam pergantian tahun di Desa Moni, yang berada di ketinggian Kelimutu, kabupaten Ende.

Thanks to :
- Penjawab segala keraguan, pemilik segala kebenaran, penguasa segalanya - Allah SWT
- Makassar Backpacker : @mksbackpacker
- Floresian, tekhusus keluarga kak Yanti , pak Imam Masjid :
- all crew #SparklingMB - Eksplore the Extraordinary FLORES

- gambar tambahan bisa diakses di www.instagram.com/aldjapari gunakan hastag #visitFlores #SparklingMB
- cerita lainnya di blog om RON :)

(tulisan ini dibuat tanpa googling, mohon maaf jika ada perbedaan pandangan, murni kesalahan subjektif penulis)

Kamis, 09 Januari 2014

#SparklingMB ; LARANTUKA - FLORES TIMUR

Aku inginkan saja hidupku tanpa batas..
Berpikir dan berkehendak bebas..
Dan berharap kutemui diriku dalam setiap perjalanan...

Banyak yang tidak begitu mengenal Nusa Tenggara, sebagai orang yang jarang nonton berita, mengenalnya pun karena pemberitaan media soal daerah timur yang sering kekurangan gizi. Awalnya iseng ikut gathering even Makassar Backpacker, Sparkling Fireflies : Jelajah Nusa Tenggara Timur - Nusa Tenggara Barat, tapi akhirnya beneran saya adalah bagian dari 15 peserta (awalnya konfirmasi 19 orang) kegiatan yg ber-hastag #SparklingMB ini. Setelah mendengarkan seperti apa perencanaan dari leader kegiatan kak Yanthi Idar, proses pra-kegiatan pun dimulai; pencarian dana, browsing destinasi dan perkenalan sesama anggota tim. Peminat semakin bertambah, namun menjelang sebaliknya, ada juga yang membatalkan diri ikut karena cuaca ekstrim disebabkan musim angin barat (bahkan menurut informasi, ada peringatan buat kapal2 yang melintas di perairan Nusa Tenggara).

Hari yang direncanakan telah tiba. Destinasi dipersempit karena batasan biaya (estimasi 700rb) dan waktu ( 28 Desember 2013 - 6 Januari 2014) yakni dari Larantuka ; Flores Timur - Pulau Komodo ; Nusa Tenggara Timur bagian Barat. Tulisan ini sebagian besarnya adalah catatan perjalanan, begitu banyak situs wisata yang tidak sempat di-eksplore.


  • LARANTUKA - FLORES TIMUR
Naik kapal Pelni dari pelabuhan Makassar ke Larantuka via KM. Sirimau membutuhkan waktu 26 jam. Yah, namanya juga backpacker, memanfaatkan potensi diri untuk meminimalkan pengeluaran dan mengefektifkan tujuan situs wisata yang ingin dicapai. Padahal bandar udara ada di kota ini!.. Senja mengantarkan tim #SparklingMB menuju daratan Flores, kapal memasuki kawasan teluk, lampu kota Larantuka mulai terlihat dari kejauhan. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam kala KM. Sirimau bersandar di pelabuhan Larantuka.Seperti situasi pelabuhan pada umumnya, desakan dan desahan penumpang, penjemput dan buruh pelabuhan begitu mudah dicitrakan indera.

Menyaksikan bocah Flores bermain bola didepan rumah tempat tim menginap adalah pemandangan baru. Rambut keriting, potongan wajah yang hampir mirip semua (hhe), tampang pemalu namun energik. Saya pribadi iri melihat permainan individu mereka, bisa dipastikan tim saya kalah jika bertanding dengan bocah-bocah itu. Namun ada yang unik dari permainan sepakbola itu, bola dianggap 'gol' apabila terkena tiang atau mistar gawang. Lain dari biasanya kan?? Yah, suasana keakraban mulai terasa, sebelum melanjutkan perjalanan, tim menyempatkan diri berfoto dengan bocah pesepakbola di Goang Girak Arena lembah gunung Ile Mandiri Larantuka. Saya pun optimis, jika bocah-bocah ini adalah energi sepakbola negeri di masa yang akan datang. :)



Larantuka adalah kawasan religius umat Katolik. Landmark tempat ini pun kebanyakan ikon-ikon religi, seperti Gereja Kathedral, Patung Mater Dolorosa di kawasan Taman Doa, di perjalanan kami pun menyaksikan ada Patung Yesus di sebuah pulau tak jauh dari pantai, dan mengarah ke terminal kota di simpang tiga juga terdapat patung bunda Maria. Seperti yang terlihat, Larantuka adalah kawasan pesisir, menurut saya sistem tata kota cukup baik, pengelolaan ruang terbuka hijau juga nampak. Disepanjang pantai kearah menuju keluar kota taman-taman dikelola dengan baik, rumputnya menghijau, pohonnya tertata, marka jalannya jelas dan baru. Namun yang tidak mengenakkan hati sebagai pendatang adalah sulit beradaptasi dengan dialek Flores, kadang emosi memuncak karena warga memanggil seperti meneriaki pencuri. Manalagi Nong (panggilan buat pemuda pria) sering menarik perhatian dengan dobel gas motor, tampang preman-lah, haha kalah bersaing saya. Psikologi jelas terganggu. Tapi inilah tantangan buat tim #SparklingMB , beradaptasi dengan dialek dan tata kehidupan masyarakat Flores.




Taman Doa MATER DOLOROSA adalah situs yang menjadi persinggahan tim sebelum melanjutkan perjalanan ke Maumere, ibukota Kabupaten Sikka. Situasi taman doa itu bersih dan terawat, lilin bekas peribadatan juga masih berbekas di setiap pos taman doa. Situs ini kelihatannya seperti ibadah berkelanjutan, ada 11 pos ibadah, kemudian ada patung Yesus tersalib, sesudahnya ada patung Mater Dolorosa, diseberang ada Gereja. Karena saya muslim dan pada saat itu tidak ada warga yang bisa dimintai informasi, saya hanya menganalogikan seperti pendakian gunung; ada pos yang harus dilewati dan ada puncak yang ingin dikunjungi. Di setiap Pos taman doa, terdapat gambar atau lukisan bertinta emas yang menggambarkan perjalanan kehidupan Yesus. Puncaknya ada di patung Yesus dan Mater Dolorosa. Bahkan disekitar patung Mater Dolorosa ada semacam lubang khusus yang dibuat dengan tujuan tertentu. Wah, keren!. Saya yakin, di setiap perayaan-perayaan umat Kristiani tempat ini memegang peranan penting sebagai sarana peribadatan warga kota Larantuka. Yah, saya hanya membayangkan kesakralan tempat ini dipenuhi cahaya lilin dan orang-orang berdoa seperti sedang melakukan sebuah perjalanan.

Tim akhirnya memperoleh tumpangan pick-up ke Terminal luar kota Larantuka, sambil menunggu tumpangan selanjutnya dengan metode hitchhiking, hujan mulai turun. Untungnya ada warung makan disekitar jalan poros itu, maklumlah, makanan halal dan murah adalah barang langka di pulau ini. Tumblr diisi penuh, mantel dikeluarkan, pokoknya harus sampai ke Maumere hari ini juga. Untuk mengefektifkan tumpangan, tim dibagi menjadi tiga. Hal ini harus dilakukan, mengingat jumlah peserta ada 15 orang. Kecemasan mulai melanda, suasana hari natal dan menjelang tahun baru ternyata  berpengaruh terhadap lalu lintas antar kota. Supir kebanyakan libur. Sembari menunggu truk atau pick-up kosong yang ingin memberikan tumpangan, mengakrabkan diri dengan warga adalah jalan untuk memperoleh petunjuk dan informasi yang dibutuhkan. Dan benar saja, salah seorang warga bersedia membantu menghubungi temannya, supir truk yang bisa mengantarkan sekitar 20km menuju perbatasan kota. Cek per cek, ternyata warga tadi adalah lulusan perguruan tinggi di Makassar, hahaa, serasa ada ikatan karena beliau pernah juga berstatus perantau pendidikan. Truk dinanti akhirnya tiba, setelah pamitan kepada beliau yang sedikit banyaknya ada kemiripan dengan ketua KPK, Abraham Samad, perjalanan dilanjutkan dengan truk pengangkut pasir menuju perbatasan Larantuka - Maumere.

Siapa yang mengira, ternyata tim kecil kedua berada 1 km didepan dan belum memperoleh tumpangan. Truk berhenti memungut tim kedua tadi (kita akan mulai akrab dengan kata memungut, di catatan perjalanan ini -hehe). Aroma petualangan semakin terasa, disuguhi pemandangan teluk dan pulau-pulau yang bertaburan, buah jambu mete yang mulai ranum dengan mudahnya kita temukan disepanjang jalan. Ada sensasi tersendiri, disaat semua paradigma masyarakat bahwa tidak ada sesuatu yang gratis, mulai saat ini kalian boleh tidak percaya. Bersahabatlah dengan alam, berbaurlah dengan masyarakat. Pelajari adat istiadat. Nusantara yang agung, aku membelai-mu..



Thanks to :
- Penjawab segala keraguan, pemilik segala kebenaran, penguasa segalanya - Allah SWT
- @mksbackpacker
- Floresian, tekhusus temannya kak Yanti..
- all crew #SparklingMB - Eksplore the Extraordinary FLORES

- gambar tambahan bisa diakses di www.instagram.com/aldjapari gunakan hastag #visitFlores #SparklingMB
- info > @KotaLarantuka
- cerita lainnya bisa diakses di blog Om RON :)

(tulisan ini dibuat tanpa googling, mohon maaf jika ada perbedaan pandangan, kesalahan subjektif penulis)