Translate

Jumat, 30 November 2012

Syair Kehidupan

Ayah kepada anaknya :
'Peganglah gitar ini, mainkan dengan indah. Warnai rasamu dengan musik , sastra, dan seni, jangan lupa penuhi otakmu dengan sains. Hidup ini lelucon belaka, tapi jalanilah dengan kesungguhan.
'Kamu bebas memeluk agama apapun termasuk tidak beragama. Satu yang pasti pilihan itu harus pilihanmu sendiri dengan pemikiranmu sendiri. 
'Ayah tidak akan memberimu apa-apa selain kasih sayang, pendidikan, dan hidup sederhana. Selebihnya Semua harta ayah akan disumbangkan untuk amal. 
'Laki-laki tidak boleh nangis, airmata itu tanda kelemahan. Jadi lelaki itu harus tangguh, kuat, tahan banting. '

Kakak kepada adik-adiknya :
'Kita adalah anak-anak petani miskin, berpijak pada kaki sendiri, berpeluh meretas masa depan. 

'Kita adalah anak-anak desa, murni tanpa pretensi, tapi harus cerdas berisi.
'Kita datang dari pinggir peradaban, tapi harus menghunjamkan semangat kemajuan, melabrak dogma, menetaskan postulat masa.
'Adalah suatu kehormatan bekerja dan bermimpi bersama kalian. Perjalanan masih panjang, tapi bersama kita rebut dunia'.


Adik kepada kakak-kakaknya :
'Hantarkan aku melihat semesta, bersekolah kehidupan, meraba keindahan laut, dan memanjat tingginya gunung. 'Bersama kita mendobrak perdaban, keras penuh ambisi. 

'Bersama kita berontak, tanpa mengutuk hidup, menyobek kenaifan. Bersama kita berjuang, sehingga tak perlu mati memuaskan birahi. 
'Bersama kita bersenandung, karena tak terbatas dalam fantasi dan karya.
'Adalah sebuah penghargaan, berburu kebaikan dan ketenangan bersama kalian.
Makam kita adalah sama, menaklukkan malam, menyulam bingkai utopia menjadi nyata'.




Ibu kepada anaknya :
'Menunduklah kepada yang lebih tua, agar kau tahu, kalau kesempatanmu berbuat kebaikan lebih besar..
Hargailah yang lebih muda, agar kau tahu, kalau suatu saat kehebatanmu tak ada apanya dibanding mereka..
Bukalah pikiranmu, karena itu adalah senar-senar kehidupan..
Bukalah dirimu, karena itu adalah kebahagiaan sejati..
Kau boleh egois, dalam melawan kemungkaran..
Karena hanya setitik kutu dalam jagad semesta'


dan, kepada kekasih-kekasihku :
'Bukan cinta yg kuberikan, tapi kehidupan....
Bukan bunga yg kuhaturkan, tapi perjuangan...
Karena bersamamu, kuingin menghirup nafas jaman yg pucat pasi, dengan harapan bersemi...
Karena denganmu, kubagi setiap langkah dengan senyum dan tawa....
damai apa adanya'.

Senin, 26 November 2012

Mental Terbelakang

Aku mau menjadi seperti dia.

Adalah hasrat fitrawi, yang membuat aku, kau dan kalian selalu tak puas.
Kita iri dengan kesuksesan orang lain, memberikan penghargaan sebesar-besarnya atas keberhasilan orang lain, sampai kita tak memberi sedikit penghargaan terhadap diri sendiri.
Padahal, kita memang dilahirkan dengan keterbatasan dan tentunya banyak kelebihan. Keterbatasan kita menjadi kelebihan orang lain , inilah kecemburuan.

Banyak betul orang, yang menghabiskan waktunya dengan meng-copy image orang lain.
Banyak betul orang, yang mengutuk dirinya karena serba kekurangan.
Banyak betul orang, yang mengorbankan masa depan dirinya untuk memuaskan hasrat batinnya.

Padahal, kita lahir dengan kelebihan.
Sedikit kelebihan yang bisa mengguncang jagad semesta.
Dan hanya sedikit yang menyadarinya,

Padahal, kita berderajat tinggi dibanding binatang.
Sehingga kita tak perlu mati untuk memuaskan birahi-birahi.
Dan tak ada lagi kata penyesalan.

Padahal, kita tak sendiri.
Bahkan lebih banyak yang sengsara.
Mengutuk hidup yang serba kekurangan.

Apakah nurani kita telah binasa dimakan birahi?
Ataukah, kebahagiaan itu hanya diukur dari materi?

Elegan nan sederhana itu ada didalam kamus.
Mengucap syukur, cukup tak susahlah diucapkan.
Sudahlah fren, setidaknya kita tak terbatas dalam berkarya, berfantasi, dan ilmu yang diobral di pinggir jalan, didalam gudang, menunggu kita untuk menjadi sedkit bijaksana.

Aku hanya ingin senang diatas kesenangan orang lain.
Aku hanya ingin diam, lalu tersenyum dalam hati, dan diterjemahkan oleh bibir.
Aku mencoba sederhana dan menjadi karakter tangguh dalam menaklukkan malam.

hingga nanti ku tahu, arti dari sebuah 'Ketenangan', yang menuntunku pada sebuah 'Keabadian'..

Kamis, 22 November 2012

Gong Caturwarsa

Ini tentang kita... Bukan saya, dia, atau mereka..

Ini tentang Parodi kehidupan yang selalu ditertawai, sebuah panggung sandiwara dalam drama Shakespeare, sebuah cerita Arab kuno dengan negeri seribu satu malamnya, atau seperti penyair-penyair zaman Barok, lebih dekat pula seperti Saga Cina, Chuang-Tzu, tentang mimpi seekor kupu-kupu, tak beda pula dengan negeri Atlantis karya Plato.

Ini bukan pula tentang kepercayaan determinis, bahwa kita dipertemukan dalam sebuah mangkuk besar peradaban. Tapi jauh sebelum itu, inilah mimpi yang sebenarnya yang tak pernah ditemukan dalam kerangkeng sejarah.

Ini juga tentang, semangat, ambisi dan cita-cita.

Sebuah gelora muda yang dihantarkan melalui pundi-pundi syaraf, dengan doktrin kebersamaan.
Sebuah nampan yang awalnya berisi nasi berbagai warna, kemudian disulap menjadi sepasang warna saja.
Sebuah ambisi dalam gairah yang mencari jawabannya.

Kita bahkan tak paham makna sebuah saudara, karena kita tak seayah-seibu, tapi kita merasakannya (seandainya ada kata yang melebihi arti dari seorang 'saudara'), dan tak mampu mengatakannya.
Kita bahkan tak mengenal lagi, karena tanpa berucap pun, kita saling memahami.
Dan tentu kita tak pernah berpikir membangun Rumah diatas Pasir.



Sayangnya kini, ada kita-kita. ada kalian. ada mereka.
Tapi tetap sejalan, mencari makna sebuah keabadian.

Aku pun yakin ini adalah euforia dalam penjara nostalgia.
Ada banyak hal yang memang tak pantas diucapkan dalam kata. Karena kata-lah yang membuat kita salah.
Maka aku tak akan berkata lagi (setidaknya untuk kali ini).

Senin, 19 November 2012

A Night Stalker

Apalah arti sebuah motivasi, jika tanpa aksi?
Apakah kau juga resah dengan segala hina kehidupan??
Seolah-olah membuatmu sepi dalam ramainya pasar.

Atau,
Apalah arti keteduhan, jika tanpa gaduh?
Apakah syahdunya hidup membuatmu merangkak?
Seolah-olah tak memberimu kesempatan untuk mengambil lompatan besar.

Mungkin, lebih baik kita kembali hidup dalam mitologi-mitologi kuno.
Tentang mistikus dewa dan astronomi klasik.

Mungkin, lebih baik kita hidup di zaman Helenistik, atau zaman Barok.
Tentang kerasnya gelombang pemikiran yang menghegemoni budaya dan peradaban.

Karena,
Aku kembali meragu.
Tentang janji keteduhanmu.
Dan tentang, keindahan Ilahi yang tersematkan di setiap belaian rindumu..

Sabtu, 17 November 2012

DEMONSTRASI (harapan kala gundul)


(Tulisan ini sebagai syarat untuk mengikuti Pembinaan Mahasiswa Sipil XXIII, Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Semester 1, Januari 2009)

                Demonstrasi adalah salah satu bentuk aspirasi mahasiswa kepada pemerintah atas kebijakan yang telah dikeluarkan. Demonstrasi adalah langkah terakhir yang diambil mahasiswa jika langkah-langkah sebelumnya menemui jalan buntu. Mengenai demonstrasi ini, sangat banyak terjadi pro dan kontra baik itu di masyarakat maupun di lingkungan mahasiswa itu sendiri. Ada banyak sudut pandang yang dipakai dalam bentuk penyampaiannya, ada kalangan yang menganggap bahwa demonstrasi itu tidak baik untuk dilakukan karena mengganggu ketertiban umum (masyarakat). Menurut kalangan ini, demonstrasi pada hakekatnya adalah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Namun mengapa harus mengganggu masyarakat itu sendiri. Menurut mereka, seharusnya proses demonstrasi itu berjalan dengan tertib dan tenang.
                Adapun menurut pihak yang setuju dengan demonstrasi beralasan bahwa proses demonstrasi itu mesti tidak berjalan dengan dan damai, intinya bagaimana mereka bisa memperjuangkan hak-hak rakyat, lagipula menurut pihak yang setuju tersebut, hanya sedikit masyarakat yang komplain dengan kegiatan tersebut apalagi mahasiswa yang melakukannya. Dari sinilah muncul semacam kelompok yang Pro dan kelompok yang Kontra dengan hal tersebut.
                Selain itu dari sudut pandang lain yang digunakan adalah dari segi banyaknya yang jatuh korban dari setiap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut pihak yang kontra, setiap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa pasti akan berakhir ricuh atau paling tidak terjadi bentrok dengan petugas keamanan. Dan itu memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Setiap kegiatan demonstrasi akhirnya nanti aspirasi tersebut tidak dapat diterima, maka akan terjadi kericuhan atau bentrok dengan petugas kepolisian, dari bentuk kericuhan itulah yang tidak diketahui siapa yang menyebabkan banyak korban dari yang luka ringan maupun yang luka parah.
                Sekali lagi menurut pihak yang setuju, bahwa semua kegiatan tersebut tidak ada apa-apanya. Jatuhnya korban menunjukkan bahwa perjuangan yang mereka lakukan sangat kuat dan keras. Dan menurutnya, mereka sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi ketika berlangsung proses demonstrasi. Mereka rela berkorban demi memperjuangkan hak-hak rakyat. Mereka telah berjanji  tidak akan menyesal jika suatu saat nanti mereka sendiri yang akan menjadi korbannya. Menurut pemahaman mereka, mahasiswa adala agen of control ( agen untuk perubahan). Jadi mereka harus serius ddan bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan hak-hak rakyat agar tidak menderita akhirnya. Dan apa yang mereka lakukan itu benar adanya. Selain itu, menurut mahasiswa yang pro dengan demonstrasi, selain sebagai agen pengubah, mereka juga adalah sebagai seorang moral agen untuk sosial kontrol. Dengan cara apapun mereka tetap akan memperjuangkan hak-hak rakyat dan tetap membela kaum lemah.
                Banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk berdemonstrasi dibandingkan menempuh jalur yang lainnya untuk menyampaikan aspirasinya. Hal ini dikarenakan jalur-jalur penyampaian aspirasinya yang lain kadang tidak ditanggapi. Selain itu, jikapun ditanggapi, mungkin apa yang disampaikan kepada pemerintah pusat. Sedangkan melalui berdemonstrasi, apa yang diinginkan mahasiswa dan masyarakat bisa langsung didengar dan diketahui oleh pemerintah meskipun belum tentu keinginannya terkabul ataupun dijalankan. Mungkin hal ini direncanakan adanya median yang berperan untuk menyampaikan informasi secara tepat dan suka untuk menanyakan sesuatu yang panas-panas atau lagi hangat-hangat diperbincangkan.
                Otomatis secara tidak langsung mahasiswa tergantung oleh media meskipun yang timbul dibenak masyarakat daerah lain adalah kesan yang tidak menyenangkan. Kesan yang sering muncul adalah bahwa mahasiswa senang berbuat anarkis.
                Yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa mengubah pola pikir masyarakat mengenai demonstrasi. Kita harus menanamkan dalam benak masyarakat bahwa demonstrasi itu merupakan sesuatu peristiwa yang sakral. Karena nasib rakyat adalah yang kita perjuangkan selama ini. Selain itu, kembali kepada diri kita, kita juga harus mengetahui makna sebenarnya dari demonstrasi tersebut. Dengan berpikir demikian maka tindakan-tindakan yang tidak perlu seperti berbuat anarkis tadi bisa dihindari dan jatuhnya korban bisa diminimalisir.
                Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi setiap akan melakukan demonstrasi. Harus dilihat keunggulan dan kesungguhan peserta/calon peserta demonstrasi, siapa tahu mereka hanya ikut-ikutan tanpa mengetahui apa yang dipermasalahkan. Peserta demonstrasi yang seperti ini bisa saja bertindak sebagai provokator atau menjadikannya sebagai sebuah ajang belaka. Selain itu, kita juga harus mempunyai kerjasama yang baik dengan pihak kepolisian atau pihak keamanan lainnya agar masalah bentrok dapat terhindarkan juga.
                Saya sendiri juga setuju dengan adanya demonstrasi ini, mendukung setiap aktivitas mahasiswa baik dipandang dari sudut manapun, karena mahasiswa adalah agen-agen masyarakat yang bertanggungjawab walau kadang ada sedikit penyimpangan yang terjadi, namun sesungguhnya mereka melakukan itu mempunyai satu tujuan, berdiri didepan masyarakat. Apalagi dari sudut pandang demonstrasi ini, mahasiswa sesungguhnya melakukannya karena cara itulah yang paling cocok. Kalau menurut pandangan orang masih ada jalan dengan cara berdiplomasi dengan anggota DPR atau bahkan langsung dengan petinggi negara, itu merupakan bagian mahasiswa. karena dengan berdemonstrasi aspirasi tersebut bisa didengar langsung melalui media informasi seperti TV atau Radio. Hal ini juga kadang dianggap salah melalui pemahaman teman-teman mahasiswa. Bahwa untuk mengundang media datang meliput kegiatan demonstrasi mereka maka melakukan suatu tindakan anarkis agar mudah media meliputnya, apalagi saat-saat ini media juga mengejar rating, artinya sesuatu yang menonjol di masyarakatlah yang diliputi.
                Melalui jalur diplomasi tadi mahasiswa tidak sanggup karena pasti akan menemui banyak kendala. Karena belum tentu orang yang kita temui bersedia untuk menemui dan kalaupun bersedia untuk menemui belum tentu apa yang mahasiswa dan rakyat diharapkan didengar. Istilahnya masuk telinga kiri tapi keluar di telinga kanan.
                Namun apapun tindakan kita harus bisa dipertanggungjawabkan. Setiap tindakan dan perbuatan akan memberikan konsekuensi tersendiri bagi pelaku tindakan tersebut. Mengenai teman-teman mahasiswa yang tidak bisa ikut kegiatan demonstrasi belum tentu mereka setuju apa dengan apa yang diperintahkan. Kembali lagi pada hakekat manusia sebagai agen of social control dan agen of moral force, mungkin saja apa yang mereka lakukan bukan dalam bentuk berdemonstrasi melainkan dalam bentuk perjuangan yang lain, tetapi kembali lagi rela berkorban dengan rakyat. Intinya disini, lakukanlah apa yang menurutmu benar dan tetap mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan. Jangan pernah lari setiap masalah yang timbul akibat perbuatan kita. Kita yang berbuat maka kita pula yang mempertanggungjawabkan.
                Apalalagi kita sebagai anak Teknik, tetap harus memaju dan mempunyai keberanian yang ditunggu, mempunyai mental baja, bukan mental kerupuk. Jika apa yang kita perbuat itu salah maka berusahalah untuk membuatnya benar dengan merasionalisasikannya agar orang-orang disekitar mengerti, agar tak ada yang salahpaham dan apa yang sama-sama kita mau dapat terwujud... SEKIAN..

akhirnya kesampaian, seperti harapan pada naifnya tulisan kala itu, 
berdiri atas nama rakyat,
berdiri atas niat baik,


berdiri atas sesuatu yang lebih besar dari kita,
berdiri untuk tahu arti dari sebuah keringat,
berdiri untuk diri sendiri,
berdiri atas sebuah harapan untuk Perubahan.aL



Rabu, 14 November 2012

yang Muda, yang Ber-Ambisi

Bisakah sedikit kita melepas kepenatan dengan berpikir tenang dan menantang?

Sedikit berbicara tentang apa itu Ambisi.
Tapi sebelumnya fren, tidak banyak kemudian referensi yang akan kita gunakan untuk membahas ini. Muatannya hanya dari saya selaku penderita, mencuri pengalaman orang lain dan sedikit pandangan tentang wacana kita ini. Dalam tulisan ini sama sekali tidak mengandung unsur 'mengajari' tetapi kita sedkit 'berbagi' tentang kehidupan kita yang jauh masuk kedalam bulu-bulu kelinci, di topi sang pesulap Jagad Raya. :D

Jadi?
Kita mulai dari status sebagai insan muda di kolong langit ini.
Ambisi memang kadang terkesan hiperbola, mungkin juga tak realistis, dan juga dianggap omong besar.
Menurutku, ambisi itu hanya dimiliki oleh golongan muda saja. Pendekatan saya adalah energi yang begitu besar dimiliki oleh yang muda. Sama halnya dengan tulisan ini, sedikit berambisi, karena sy pun tak mau melewatkan hari tanpa adanya celoteh, entah tertulis-kah, sekedar ungkapan-kah, atau cukup hanya dalam lintasan pikiran saja. Energi yang besar tadi, tanpa termanfaatkan dengan baik, tentu akan merusak. Ya, seperti pada tulisan sebelumnya, tentang kanalisasi..

Tanpa ambisi, hidup ini hanyalah seperti lukisan danau yang airnya tenang, adem ayem, tanpa sentuhan corak-corak kasar, dan terpenting, sy jamin, akan membosankan dan tak berselera. Hidup diatur tanpa mengatur. Senyuman yang hampa. Dan tentu, tak punya mimpi. Seonggok daging bertulang yang bergerak dan melakukan aktifitas rutin setiap harinya. wew.

Hidup dengan ambisi, adalah gaya petarung.
Lukisan yang penuh ombak ganas, dan diatasnya terdapat awak yang berkeringat membangun komando dengan rekannya untuk melewati badai kehidupan, untuk mendapatkan daratan yang sejuk, tempat membasuh wajah yang tegang dan berkeringat.

Merencanakan hidup, dengan cita-cita yang besar, akan menegangkan urat-urat saraf, membuka cakrawala berpikir tentang strategi dan apa itu keringat. Memaksa kita pula untuk kreatif, merekasa kondisi, dan menggunakan seluruh komponen indra kita menjadi laskar petarung.

Menjalani hidup dengan cita-cita yang besar, tentu punya resiko. Tapi sebesar apapun resiko itu, asal tidak menginjak kepribadian kita, itulah tantangan. Hambatan adalah tantangan. Resiko adalah Motivasi. Kekurangan menjadi keringat. Batasan adalh ruang gerak. Dan setiap ide adalah peluang.

Melewati hidup dengan penuh cita-cita yang besar. tentu melahirkan orang-orang yang besar pula, kesatria pedang yang pulang kekampung halamannya dengan senyum kemenangan, dengan baju sirah yang tersayat-sayat, lusuh dan penuh lumpur. Dan itulah Ketenangan menurutku.

Hidup penuh ambisi ditandai TANPA keluhan. Karena mengeluh mengugurkan setiap semangat yang ada dalam diri kita.

Hidup penuh ambisi ditandai dengan Ketegangan. Karena, Senyuman itu adalah wahyu, karena Senyuman itu adalah bahasa nurani yang paling merdu.

Hidup penuh ambisi ditandai dengan Ide-ide segar, Kreatifitas tak terbatas, hubungan sosial yang selalu hidup.

Hidup penuh ambisi adalah Kebaikan yang tiada taranya..

Lalu?? Bolehkah??