Translate

Jumat, 19 Oktober 2012

Mahasiswa dan ............ ? (1)

- Tawuran

   Terlalu naif kita, jika menganggap tawuran pelajar/mahasiswa adalah sebuah kebiasaan. Atau dikatakan bahwa hampir kejadian ini massif dikancah nasional. keterlaluan juga, ketika kita melihat mahasiswa dengan gaya sedikit kumal dan gembel, lantas kita mengambil kesimpulan, "itu preman kampus.

   Kampus sebagai tempat berkumpul, bermain, dan sosialisasi memiliki dinamika yang besar, bagaimana tidak, karena kampus adalah satu-satunya tempat merdeka di muka bumi ini. Merdeka dalam artian pemikiran dan kreatifitas, berpikir dan berbuat, berakal dan inovatif. Tapi, tak guna juga semua peranan itu jika tanpa "wadah" untuk menuangkan dinamika-dinamika itu. Yang pandai berkelahi, kan ada karate, atau unit kegiatan Tinju, untuk menuangkan minat dan bakat mereka. Di Eropa sana, justru rating (peringkat) Perguruan Tinggi yang menjadi salah satu indikator utamanya adalah prestasi yang diperoleh oleh mahasiswanya (NBA, Football, Soccer, atau Rugby). Kalau di negeri kita yah, minat bakat tadi tidak diasah sehingga "lari"nya salah dan berkesan negatif. Intinya, sebagian besar tawuran itu adalah karena mahasiswa tak punya atau tak diberikan wadah untuk mengkanalisasi dinamika-dinamika (energi besar) tadi sehingga mendobrak kemana-kemana, tak terarah, dan tak termanfaatkan.
   
    Lebih ironis lagi, disamping ulasan diatas, hampir semua konflik-konflik horisontal adalah 'mainan' kepentingan orang besar. Dalam strategi perang 'the art of war' Sun Tzu, mengatakan "membunuh dengan pisau pinjaman", dalam artian bahwa, si Pemangku kepentingan tak perlu repot mengotori tangannya untuk mencapai ambisinya, ya tentu dengan cara yang sedikit licin tanpa tersentuh. Sebuah ketakutan baginya, ketika Gerakan Kritis meluas, efek sosialnya akan merusak konstalasi birokrasi korup. Tak banyak tulisan tentang bagaimana mahasiswa/pemuda diperalat untuk sebuah kepentingan individu global, mungkin memang karena semua intrik yang ada cuma sekedar asumsi tanpa bukti. Sekali lagi, licin dan 'kebal' hukum.


"Rekayasa sosial timbul akibat adanya sentimen atas kondisi manusia.Untuk itu perlu adanya perombakan yang dimulai dari cara pandang/paradigma manusia atas sebuah perubahan" Kang/Ustad/Mahaguru Jalal

- Organisasi
  Kesan buruk bagi mahasiswa juga adalah organisatoris. Memang tak semua mengatakan demikian, namun realita kekinian berkata bahwa indikator pencapaian pendidikan yang tepat waktu adalah ketika mahasiswa tidak terjerumus dalam wadah 'organisasi' ini. Intinya akan menghambat perkuliahan katanya. Dari seluruh aspek yang ada, pencapaian cita-cita pendidikan nasional tak akan tercapai, apabila pelajarnya tak mandiri, tentunya bisa dilakukan melalui wadah organisasi.
   Dalam sekop kacamata kuda (kacamata yang menutupi pandangan luas kuda) tentu akan berpikir seperti diatas.. Melihat organisasi sebagai sarang mahasiswa pemalas, jelas itu adalah kesalahan. Buktinya, silahkan tanya pelaku-pelaku sejarah nasional, apakah betul negara ini bisa 'sedikit berkembang' tanpa adanya keterlibatan dalam 'laboratorium mini negara, atau kita sebut organisasi', founding father kita adalah Organisatoris ulung. Karena terbiasa mencari solusi, berani mengemukakan gagasan, dan kreatif dalam menyiasati masalah-maslah hidup. Dan sekali lagi, tempat berbuat kesalahan memang hanya ada di Organisasi Pelajar. Undang-undang bahkan menjamin kebebasan berkumpul (UUD 1945) dalam wadah lembaga kemahasiswaan (Kepmendikbud 155/U/1998). Dengan alasan itu, kita sama sekali tidak boleh memandang sebelah mata, tentang eksistensi, ekspektasi dan prospek dari lembaga mahasiswa itu sendiri.. -iron.stock-
    Tidak bijak kemudian, kalau kita mendikotomikan antara akademik dan organisasi. Karena mereka satu kesatuan, berjalan beriringan, mutualistik.

(sebagai persepsi pribadi atas respon kegelisahan hati)AL



Tidak ada komentar:

Posting Komentar