Translate

Minggu, 23 Desember 2012

Mahasiswa Diarahkan Kemana?




        Mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita negeri ini yang termuat dalam pembukaan undang-undang tertinggi di negara ini, 67 tahun telah diupayakan secara sadar dan terorganisir demi kemajuan serta kesejahteraan masyarakat Indonesia itu sendiri. Berbagai model telah dituangkan dan dijalankan dalam fase-fase perjalanan pendidikan selama ini, dan juga telah melahirkan generasi-generasi yang tentu hasilnya seperti saat  ini.

       Pendidikan  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (ketentuan umum : UU No. 12 Tahun 2012).

Hingga akhirnya, kita melihat dan meneropong kedepan, dengan sebuah pertanyaan pragmatis, diarahkan kemana mahasiswa nantinya?

                1.       Peneliti
                2.       Robot-Robot Penghasil Uang
                3.       Iron Stock
                4.       Penindas-Penindas Baru

Usaha sadar dan terencana tersebut seharusnya berbanding lurus dengan segala aspek-aspek penunjang untuk mencapai hakikat pendidikan tinggi. Mental-mental pendidik yang tak sadar akan kemunduran pendidikan, dan segala bentuk aktifitas yang monoton tentu akan memperburuk pola pengembangan pendidikan saat ini. Potret ini bagaikan fenomena gunung es dilautan, disamping berbagai macam problematika pendidikan saat ini. Memajukan sosial dan etika pendidikan juga harus betul-betul dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab intelektualitas.

Padahal seharusnya, mahasiswa itu adalah calon-calon pemimpin bangsa dimasa yang akan datang. Calon-calon ilmuan yang mengangkat harkat dan martabat bangsa, atau pendobrak-pendobrak kemajuan pembangunan dengan ide-ide kreatif, atau dengan gaya-gaya yang elegan. Bukan sarjana yang kesana-kemari menenteng map besar, lusuh dan tebal, mencari pekerjaan sekian tahun lamanya, ditolak karena tak punya keahlian keilmuan, atau dipecat karena tak punya mental baja dan semangat pembaharuan. Bukan pula sarjana yang selalu mengemis dihadapan pejabat, opurtunis, menggadaikan idealisme dengan uang, atau menindas masyarakat kecil untuk birahi.

Bukan saya yang akan menjawab, tapi kita yang harus sadar dan terus belajar, dari teori, pengalaman dan perbuatan.
               

Kamis, 13 Desember 2012

#49 HMS FT-UH, 12-12-12

Tepatnya 12 Desember 1963, 49 tahun yang lalu, sekelompok mahasiswa Departemen Sipil Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin berinisiatif membentuk sebuah kelompok studi mahasiswa yang menjadi cikal bakal Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (HMS FT-UH). Melihat sejarah, embrio lembaga kemahasiswaan intra perguruan tinggi ini berada pada zaman orde lama (kepemimpinan Soekarno), dengan hiruk pikuk Komunisme dan akhirnya penggulingan rezim. Boleh kita mengatakan bahwa dinamika kemahasiswaan pada saat itu begitu besar dengan agenda-agenda radikal (anggaplah situasinya seperti dalam film GIE).

Empat puluh sembilan tahun tentu bukan waktu yang sedikit untuk sebuah lembaga kemahasiswaan tingkat jurusan. Tentu sangat banyak mengalami perubahan sistem, baik secara kultural maupun struktural. Sebagai pandangan sunjektifitas, HMS cenderung kaku pada wilayah administrasi, dan inilah termasuk salah satu yang menonjol dibanding organ-organ lain. Sebagai organisasi intra perguruan tinggi yang bergerak pada wilayah profesi keilmuan (kepmen 155/u/1998) HMS juga telah mengukir berbagai prestasi dalam kancah regional maupun nasional. International??

Ekspektasi dari sebuah organ intra bukan pada seberapa bagus atau suksesnya hasil dari sebuah program, melainkan berorientasi pada proses terlaksananya program-program untuk mencapai tujuan. Sebuah proses yang mengiringi kemajuan dan kemandirian bangsa. Banyak hal yang besar ditemukan dalam dinamika kemahsiswaan. Sejarah menceritakan kepda kita, tentang youth power -kekuatan pemuda- menumbangkan rezim, membawa ide-ide kreatif untuk pembangunan, katalisator dalam berbagai hidup bermasyarakat. Inilah yang menjadi alasan, mengapa organ-organ kemahasiswaan harus hidup dan terus berkecambah, agar keseimbangan tetap ada.



Salah satu energi terbesar yang dimiliki oleh HMS saat ini adalah kader. Kader yang memiliki semangat juang tinggi, meneruskan cita-cita luhur negeri ini. Jangan bertanya, apa yang lembaga berikan kepada kita, karena jawabannya akan kau temukan kelak, tapi bertanyalah pada dirimu, apa yang telah kau perbuat untuk lembaga. Kekuatan doktrin, sebagai nafas perjuangan. Senioritas, Solidaritas, Loyalitas. Tiga pilar kultural yang ada di Teknik Unhas. Hargailah yang lebih tua, rasakan derita dan senang kawanmu, cintailah negerimu. 

Semoga tulisan yang sama masih ada di Dies Natalis perak depan. (akupun melihat kegelisahan itu)
Tak ada yang lebih berbahagia dari seluruh orang-orang yang pernah merasakan nikmatnya ber-HMS, mengabdi dan berkarya, 49 tahun , seharusnya lebih dewasa, lebih mapan dan progresif.

Kepada pemberi ruang kreatifitas  tak terbatas,
Kepada pemberi semangat untuk berjuang,
Terima Kasih.

DIES NATALIS HMS FT-UH ke-49.
"Kibarkan Benderamu, Gemakanlah Suaramu, Diseantero Nusantara.. "

Sabtu, 08 Desember 2012

Bu(d)aya Zaman ; Hari Anti Korupsi



_aLdjapari­_

"Jika sungai terakhir sudah mengering,
 Jika pohon terakhir sudah ditebang,
 Maka barulah manusia sadar, bahwa uang tidak bisa dimakan"

Dengan sedikit kegelisahan, tentang banyaknya pergeseran-pergeseran (menurutku) nilai sosio-kultural;kearifan lokal yang berlaku di masyarakat kini, tentang sesuatu yang akrab disapa "westernisasi-modernisasi" yang kemarin dikuliahkan Bang Anhar Gonggong, dan tentang gambaran masa  depan budaya dalam mengawal sistem pendidikan maupun pemerintahan.

Adanya dikotomi tentang definisi budaya selalu menjadi pembicaraan yang tak basi, oleh dramatikus, sejarawan, ahli budaya klasik sampai kontemporer, akademisi, pemerhati, maupun tetua adat juga angkat bicara. Tentu dengan alasan yang sama, sebuah kegelisahan hati, ingin mengktritik kacaunya tatanan hidup sosial masyarakat yang apatis dan sebenarnya tidak 'lugu', tapi lebih pantas dikatakan 'munafik'.

Sapa yang sangkal, bahwa budaya pop saat ini menjadi sebuah soft power bagi suatu negara. Sebut saja, Jepang dengan Manga dan Anime-nya, Korea dengan drama film dan musikal-nya, Eropa dan Yunani (sejak dulu) dengan pesta Mitologi-nya dan masih banyak dominasi budaya adopsi dari negara lain, menyingkirkan dominasi budaya inlander. Soft power ini bahkan menjadi trend, mode bahkan lifestyle yang kemudian kita kenal dengan istilah westernisasi, sekulerisasi, atau moderniasi.

Praktisnya, kita juga mengenal beberapa sederet istilah mengenai teori-teori kebudayaan. Seperti; Pop Culture, Youth Culture, Trend, Fashion, Enjokosai Menurut hematku, identitas kebudayaan kini mulai absurd. Segudang teori tak mampu memuaskan krisis fundamental dewasa ini. Miskinnya integritas personal tentu berbanding lurus dengan karakter kebangsaan. Dan kadang kita hanya mampu berkata , dengan lantang, “hey Kawan, zaman ini milik kita, gaya kita adalah budaya kita, mari kita warnai zaman ini dengan kuas-kuas kita sendiri (dengan kanvas pragmatisme tentunya)”. Atau senada dengan kaum Epicurean ribuan tahun silam, yang katanya, “Orang Asing, disini kalian akan hidup senang, disini, kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”.  Dan kita akan terus terbelakang, sistem ekonomi yang dibanggakan padahal rating global sistem pendidikannya juara dari belakang.




Ekspektasi dari sebuah kegelisahan hati.
Melihat negeri ini nyaman.
Lautnya, gunungnya, lansekap desanya, atau tentang keramahan kotanya.

Ekshibisi dari sebuah ambisi.
Membuat mereka yang terpinggirkan bisa tersenyum, seperti kita yang tiap pagi baca koran dan minum kopi.
Pancasila, Kearifan Lokal, Norma, Traktat, atau yang lebih kecil, Sapaan tetangga.
Apakah kita hanya mengeluh? atau berbuat mulai dari diri sendiri.
(yang kontras dari negeri ini, dan aku merindukannya)

#Selamat Hari Anti Korupsi

Jumat, 07 Desember 2012

Sajak tak Bertuan

Saat ini pilihanku hanya dua..
Pertama, kembali menggali kenangan...
Kedua, berfantasi, melabrak batasan-batasan fakta..

Tapi aku tak akan memilih, karena aku akan menceritakan keduanya..

Yang pertama,
Tak ada masa lalu yang terus menghantuiku, selain masa bersamamu..
Memori itu tak akan hilang sayangku..
Tak ada hari yang lebih bersemangat, selain hari bersamamu..
Tentu ini bukan euforia, karena saat ini pun kumerasakan demikian..
Terlahir sebagai orang sepertiku, kadang kukutuki takdir, atau menghakimi diri karena penyesalan..
Tak kupikir, bahwa ini semua harus kunikmati dan kusyukuri, karena masih bisa mengecap keindaha-keindahan ilahi denganmu..
Saat ini pula, sering ku tersenyum sendiri, dejavu akan masa-masa itu, atau parahnya menggunakan rasio dirimu untuk menilai wanita lain..
Sering juga ku termenung, sadar akan kebodohanku tempo lalu, mengabaikan kesempatan-kesempatan itu..
Atau,
Justru kekakuan itu makin menjadi..
Seakan buta dan tuli akan semua pergerakan alam, selain dirimu..

Aku mengingatmu,
Karena sekarang, tak ada kepastian yang kumiliki selain itu..
Ini bukan skenario drama, tapi inilah kisah..
Yang kekal di alam pikiran..
Ini adalah sejarah, dalam lembar-lembar buku kehidupan kita..
Karena sejuta bait-bait indah nan sakral lahir dari ketakjuban hatimu..
Kutaklukkan pula malam-malam, kuhidupkan siang-siang, kudapati telaga-telaga di tengah sabana..
Sekali lagi, pernah bersamamu..

Yang kedua,
Akhirnya kita berpisah karena mulai mendewasa, mampu melukis masa depan dalam kanvas waktu..
Kadang aku benci berpikir kedepan, karena dengan alasan itulah aku melepasmu..
Tapi, ini pulalah kemenangan terbesar dalam diriku, karena mampu mengorbankan apa yang kita kasihi, untuk apa yang kita imani..
Saya kira ini sangat adil..
Karena itu pula, perbedaang adalah dua substansi yang lain, tak bisa dipaksakan sama..

Hingga hari ini, ketika keajaiban ada; kau mengimani kiblatku..
Maka dengan segera kutemui orang tuamu, bahwa akulah laki-laki itu...
Yang kau ceritakan terdahulu, yang akan menjadi imammu..
Tapi dibalik semua ini, hanyalah harapan kaku yang membuat tubuhku juga kaku..
Tapi juga tak pernah kuharap ada keluhan atau perasaan iba kepadaku..
Karena itu kelemahan, memutuskan rantai-rantai imajinasi..

(sajak untuk orang-orang yang menghakimi diri karena perbedaan)
(perbedaan tak bisa akan sama, tapi akan saling melengkapi, agar keseimbangan tetap ada)
(karena kita beda, kita tak kan satu, tapi juga membuat kita satu)

Jumat, 30 November 2012

Syair Kehidupan

Ayah kepada anaknya :
'Peganglah gitar ini, mainkan dengan indah. Warnai rasamu dengan musik , sastra, dan seni, jangan lupa penuhi otakmu dengan sains. Hidup ini lelucon belaka, tapi jalanilah dengan kesungguhan.
'Kamu bebas memeluk agama apapun termasuk tidak beragama. Satu yang pasti pilihan itu harus pilihanmu sendiri dengan pemikiranmu sendiri. 
'Ayah tidak akan memberimu apa-apa selain kasih sayang, pendidikan, dan hidup sederhana. Selebihnya Semua harta ayah akan disumbangkan untuk amal. 
'Laki-laki tidak boleh nangis, airmata itu tanda kelemahan. Jadi lelaki itu harus tangguh, kuat, tahan banting. '

Kakak kepada adik-adiknya :
'Kita adalah anak-anak petani miskin, berpijak pada kaki sendiri, berpeluh meretas masa depan. 

'Kita adalah anak-anak desa, murni tanpa pretensi, tapi harus cerdas berisi.
'Kita datang dari pinggir peradaban, tapi harus menghunjamkan semangat kemajuan, melabrak dogma, menetaskan postulat masa.
'Adalah suatu kehormatan bekerja dan bermimpi bersama kalian. Perjalanan masih panjang, tapi bersama kita rebut dunia'.


Adik kepada kakak-kakaknya :
'Hantarkan aku melihat semesta, bersekolah kehidupan, meraba keindahan laut, dan memanjat tingginya gunung. 'Bersama kita mendobrak perdaban, keras penuh ambisi. 

'Bersama kita berontak, tanpa mengutuk hidup, menyobek kenaifan. Bersama kita berjuang, sehingga tak perlu mati memuaskan birahi. 
'Bersama kita bersenandung, karena tak terbatas dalam fantasi dan karya.
'Adalah sebuah penghargaan, berburu kebaikan dan ketenangan bersama kalian.
Makam kita adalah sama, menaklukkan malam, menyulam bingkai utopia menjadi nyata'.




Ibu kepada anaknya :
'Menunduklah kepada yang lebih tua, agar kau tahu, kalau kesempatanmu berbuat kebaikan lebih besar..
Hargailah yang lebih muda, agar kau tahu, kalau suatu saat kehebatanmu tak ada apanya dibanding mereka..
Bukalah pikiranmu, karena itu adalah senar-senar kehidupan..
Bukalah dirimu, karena itu adalah kebahagiaan sejati..
Kau boleh egois, dalam melawan kemungkaran..
Karena hanya setitik kutu dalam jagad semesta'


dan, kepada kekasih-kekasihku :
'Bukan cinta yg kuberikan, tapi kehidupan....
Bukan bunga yg kuhaturkan, tapi perjuangan...
Karena bersamamu, kuingin menghirup nafas jaman yg pucat pasi, dengan harapan bersemi...
Karena denganmu, kubagi setiap langkah dengan senyum dan tawa....
damai apa adanya'.

Senin, 26 November 2012

Mental Terbelakang

Aku mau menjadi seperti dia.

Adalah hasrat fitrawi, yang membuat aku, kau dan kalian selalu tak puas.
Kita iri dengan kesuksesan orang lain, memberikan penghargaan sebesar-besarnya atas keberhasilan orang lain, sampai kita tak memberi sedikit penghargaan terhadap diri sendiri.
Padahal, kita memang dilahirkan dengan keterbatasan dan tentunya banyak kelebihan. Keterbatasan kita menjadi kelebihan orang lain , inilah kecemburuan.

Banyak betul orang, yang menghabiskan waktunya dengan meng-copy image orang lain.
Banyak betul orang, yang mengutuk dirinya karena serba kekurangan.
Banyak betul orang, yang mengorbankan masa depan dirinya untuk memuaskan hasrat batinnya.

Padahal, kita lahir dengan kelebihan.
Sedikit kelebihan yang bisa mengguncang jagad semesta.
Dan hanya sedikit yang menyadarinya,

Padahal, kita berderajat tinggi dibanding binatang.
Sehingga kita tak perlu mati untuk memuaskan birahi-birahi.
Dan tak ada lagi kata penyesalan.

Padahal, kita tak sendiri.
Bahkan lebih banyak yang sengsara.
Mengutuk hidup yang serba kekurangan.

Apakah nurani kita telah binasa dimakan birahi?
Ataukah, kebahagiaan itu hanya diukur dari materi?

Elegan nan sederhana itu ada didalam kamus.
Mengucap syukur, cukup tak susahlah diucapkan.
Sudahlah fren, setidaknya kita tak terbatas dalam berkarya, berfantasi, dan ilmu yang diobral di pinggir jalan, didalam gudang, menunggu kita untuk menjadi sedkit bijaksana.

Aku hanya ingin senang diatas kesenangan orang lain.
Aku hanya ingin diam, lalu tersenyum dalam hati, dan diterjemahkan oleh bibir.
Aku mencoba sederhana dan menjadi karakter tangguh dalam menaklukkan malam.

hingga nanti ku tahu, arti dari sebuah 'Ketenangan', yang menuntunku pada sebuah 'Keabadian'..

Kamis, 22 November 2012

Gong Caturwarsa

Ini tentang kita... Bukan saya, dia, atau mereka..

Ini tentang Parodi kehidupan yang selalu ditertawai, sebuah panggung sandiwara dalam drama Shakespeare, sebuah cerita Arab kuno dengan negeri seribu satu malamnya, atau seperti penyair-penyair zaman Barok, lebih dekat pula seperti Saga Cina, Chuang-Tzu, tentang mimpi seekor kupu-kupu, tak beda pula dengan negeri Atlantis karya Plato.

Ini bukan pula tentang kepercayaan determinis, bahwa kita dipertemukan dalam sebuah mangkuk besar peradaban. Tapi jauh sebelum itu, inilah mimpi yang sebenarnya yang tak pernah ditemukan dalam kerangkeng sejarah.

Ini juga tentang, semangat, ambisi dan cita-cita.

Sebuah gelora muda yang dihantarkan melalui pundi-pundi syaraf, dengan doktrin kebersamaan.
Sebuah nampan yang awalnya berisi nasi berbagai warna, kemudian disulap menjadi sepasang warna saja.
Sebuah ambisi dalam gairah yang mencari jawabannya.

Kita bahkan tak paham makna sebuah saudara, karena kita tak seayah-seibu, tapi kita merasakannya (seandainya ada kata yang melebihi arti dari seorang 'saudara'), dan tak mampu mengatakannya.
Kita bahkan tak mengenal lagi, karena tanpa berucap pun, kita saling memahami.
Dan tentu kita tak pernah berpikir membangun Rumah diatas Pasir.



Sayangnya kini, ada kita-kita. ada kalian. ada mereka.
Tapi tetap sejalan, mencari makna sebuah keabadian.

Aku pun yakin ini adalah euforia dalam penjara nostalgia.
Ada banyak hal yang memang tak pantas diucapkan dalam kata. Karena kata-lah yang membuat kita salah.
Maka aku tak akan berkata lagi (setidaknya untuk kali ini).

Senin, 19 November 2012

A Night Stalker

Apalah arti sebuah motivasi, jika tanpa aksi?
Apakah kau juga resah dengan segala hina kehidupan??
Seolah-olah membuatmu sepi dalam ramainya pasar.

Atau,
Apalah arti keteduhan, jika tanpa gaduh?
Apakah syahdunya hidup membuatmu merangkak?
Seolah-olah tak memberimu kesempatan untuk mengambil lompatan besar.

Mungkin, lebih baik kita kembali hidup dalam mitologi-mitologi kuno.
Tentang mistikus dewa dan astronomi klasik.

Mungkin, lebih baik kita hidup di zaman Helenistik, atau zaman Barok.
Tentang kerasnya gelombang pemikiran yang menghegemoni budaya dan peradaban.

Karena,
Aku kembali meragu.
Tentang janji keteduhanmu.
Dan tentang, keindahan Ilahi yang tersematkan di setiap belaian rindumu..

Sabtu, 17 November 2012

DEMONSTRASI (harapan kala gundul)


(Tulisan ini sebagai syarat untuk mengikuti Pembinaan Mahasiswa Sipil XXIII, Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Semester 1, Januari 2009)

                Demonstrasi adalah salah satu bentuk aspirasi mahasiswa kepada pemerintah atas kebijakan yang telah dikeluarkan. Demonstrasi adalah langkah terakhir yang diambil mahasiswa jika langkah-langkah sebelumnya menemui jalan buntu. Mengenai demonstrasi ini, sangat banyak terjadi pro dan kontra baik itu di masyarakat maupun di lingkungan mahasiswa itu sendiri. Ada banyak sudut pandang yang dipakai dalam bentuk penyampaiannya, ada kalangan yang menganggap bahwa demonstrasi itu tidak baik untuk dilakukan karena mengganggu ketertiban umum (masyarakat). Menurut kalangan ini, demonstrasi pada hakekatnya adalah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Namun mengapa harus mengganggu masyarakat itu sendiri. Menurut mereka, seharusnya proses demonstrasi itu berjalan dengan tertib dan tenang.
                Adapun menurut pihak yang setuju dengan demonstrasi beralasan bahwa proses demonstrasi itu mesti tidak berjalan dengan dan damai, intinya bagaimana mereka bisa memperjuangkan hak-hak rakyat, lagipula menurut pihak yang setuju tersebut, hanya sedikit masyarakat yang komplain dengan kegiatan tersebut apalagi mahasiswa yang melakukannya. Dari sinilah muncul semacam kelompok yang Pro dan kelompok yang Kontra dengan hal tersebut.
                Selain itu dari sudut pandang lain yang digunakan adalah dari segi banyaknya yang jatuh korban dari setiap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurut pihak yang kontra, setiap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa pasti akan berakhir ricuh atau paling tidak terjadi bentrok dengan petugas keamanan. Dan itu memang sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Setiap kegiatan demonstrasi akhirnya nanti aspirasi tersebut tidak dapat diterima, maka akan terjadi kericuhan atau bentrok dengan petugas kepolisian, dari bentuk kericuhan itulah yang tidak diketahui siapa yang menyebabkan banyak korban dari yang luka ringan maupun yang luka parah.
                Sekali lagi menurut pihak yang setuju, bahwa semua kegiatan tersebut tidak ada apa-apanya. Jatuhnya korban menunjukkan bahwa perjuangan yang mereka lakukan sangat kuat dan keras. Dan menurutnya, mereka sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi ketika berlangsung proses demonstrasi. Mereka rela berkorban demi memperjuangkan hak-hak rakyat. Mereka telah berjanji  tidak akan menyesal jika suatu saat nanti mereka sendiri yang akan menjadi korbannya. Menurut pemahaman mereka, mahasiswa adala agen of control ( agen untuk perubahan). Jadi mereka harus serius ddan bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan hak-hak rakyat agar tidak menderita akhirnya. Dan apa yang mereka lakukan itu benar adanya. Selain itu, menurut mahasiswa yang pro dengan demonstrasi, selain sebagai agen pengubah, mereka juga adalah sebagai seorang moral agen untuk sosial kontrol. Dengan cara apapun mereka tetap akan memperjuangkan hak-hak rakyat dan tetap membela kaum lemah.
                Banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk berdemonstrasi dibandingkan menempuh jalur yang lainnya untuk menyampaikan aspirasinya. Hal ini dikarenakan jalur-jalur penyampaian aspirasinya yang lain kadang tidak ditanggapi. Selain itu, jikapun ditanggapi, mungkin apa yang disampaikan kepada pemerintah pusat. Sedangkan melalui berdemonstrasi, apa yang diinginkan mahasiswa dan masyarakat bisa langsung didengar dan diketahui oleh pemerintah meskipun belum tentu keinginannya terkabul ataupun dijalankan. Mungkin hal ini direncanakan adanya median yang berperan untuk menyampaikan informasi secara tepat dan suka untuk menanyakan sesuatu yang panas-panas atau lagi hangat-hangat diperbincangkan.
                Otomatis secara tidak langsung mahasiswa tergantung oleh media meskipun yang timbul dibenak masyarakat daerah lain adalah kesan yang tidak menyenangkan. Kesan yang sering muncul adalah bahwa mahasiswa senang berbuat anarkis.
                Yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana kita sebagai seorang mahasiswa mengubah pola pikir masyarakat mengenai demonstrasi. Kita harus menanamkan dalam benak masyarakat bahwa demonstrasi itu merupakan sesuatu peristiwa yang sakral. Karena nasib rakyat adalah yang kita perjuangkan selama ini. Selain itu, kembali kepada diri kita, kita juga harus mengetahui makna sebenarnya dari demonstrasi tersebut. Dengan berpikir demikian maka tindakan-tindakan yang tidak perlu seperti berbuat anarkis tadi bisa dihindari dan jatuhnya korban bisa diminimalisir.
                Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi setiap akan melakukan demonstrasi. Harus dilihat keunggulan dan kesungguhan peserta/calon peserta demonstrasi, siapa tahu mereka hanya ikut-ikutan tanpa mengetahui apa yang dipermasalahkan. Peserta demonstrasi yang seperti ini bisa saja bertindak sebagai provokator atau menjadikannya sebagai sebuah ajang belaka. Selain itu, kita juga harus mempunyai kerjasama yang baik dengan pihak kepolisian atau pihak keamanan lainnya agar masalah bentrok dapat terhindarkan juga.
                Saya sendiri juga setuju dengan adanya demonstrasi ini, mendukung setiap aktivitas mahasiswa baik dipandang dari sudut manapun, karena mahasiswa adalah agen-agen masyarakat yang bertanggungjawab walau kadang ada sedikit penyimpangan yang terjadi, namun sesungguhnya mereka melakukan itu mempunyai satu tujuan, berdiri didepan masyarakat. Apalagi dari sudut pandang demonstrasi ini, mahasiswa sesungguhnya melakukannya karena cara itulah yang paling cocok. Kalau menurut pandangan orang masih ada jalan dengan cara berdiplomasi dengan anggota DPR atau bahkan langsung dengan petinggi negara, itu merupakan bagian mahasiswa. karena dengan berdemonstrasi aspirasi tersebut bisa didengar langsung melalui media informasi seperti TV atau Radio. Hal ini juga kadang dianggap salah melalui pemahaman teman-teman mahasiswa. Bahwa untuk mengundang media datang meliput kegiatan demonstrasi mereka maka melakukan suatu tindakan anarkis agar mudah media meliputnya, apalagi saat-saat ini media juga mengejar rating, artinya sesuatu yang menonjol di masyarakatlah yang diliputi.
                Melalui jalur diplomasi tadi mahasiswa tidak sanggup karena pasti akan menemui banyak kendala. Karena belum tentu orang yang kita temui bersedia untuk menemui dan kalaupun bersedia untuk menemui belum tentu apa yang mahasiswa dan rakyat diharapkan didengar. Istilahnya masuk telinga kiri tapi keluar di telinga kanan.
                Namun apapun tindakan kita harus bisa dipertanggungjawabkan. Setiap tindakan dan perbuatan akan memberikan konsekuensi tersendiri bagi pelaku tindakan tersebut. Mengenai teman-teman mahasiswa yang tidak bisa ikut kegiatan demonstrasi belum tentu mereka setuju apa dengan apa yang diperintahkan. Kembali lagi pada hakekat manusia sebagai agen of social control dan agen of moral force, mungkin saja apa yang mereka lakukan bukan dalam bentuk berdemonstrasi melainkan dalam bentuk perjuangan yang lain, tetapi kembali lagi rela berkorban dengan rakyat. Intinya disini, lakukanlah apa yang menurutmu benar dan tetap mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan. Jangan pernah lari setiap masalah yang timbul akibat perbuatan kita. Kita yang berbuat maka kita pula yang mempertanggungjawabkan.
                Apalalagi kita sebagai anak Teknik, tetap harus memaju dan mempunyai keberanian yang ditunggu, mempunyai mental baja, bukan mental kerupuk. Jika apa yang kita perbuat itu salah maka berusahalah untuk membuatnya benar dengan merasionalisasikannya agar orang-orang disekitar mengerti, agar tak ada yang salahpaham dan apa yang sama-sama kita mau dapat terwujud... SEKIAN..

akhirnya kesampaian, seperti harapan pada naifnya tulisan kala itu, 
berdiri atas nama rakyat,
berdiri atas niat baik,


berdiri atas sesuatu yang lebih besar dari kita,
berdiri untuk tahu arti dari sebuah keringat,
berdiri untuk diri sendiri,
berdiri atas sebuah harapan untuk Perubahan.aL



Rabu, 14 November 2012

yang Muda, yang Ber-Ambisi

Bisakah sedikit kita melepas kepenatan dengan berpikir tenang dan menantang?

Sedikit berbicara tentang apa itu Ambisi.
Tapi sebelumnya fren, tidak banyak kemudian referensi yang akan kita gunakan untuk membahas ini. Muatannya hanya dari saya selaku penderita, mencuri pengalaman orang lain dan sedikit pandangan tentang wacana kita ini. Dalam tulisan ini sama sekali tidak mengandung unsur 'mengajari' tetapi kita sedkit 'berbagi' tentang kehidupan kita yang jauh masuk kedalam bulu-bulu kelinci, di topi sang pesulap Jagad Raya. :D

Jadi?
Kita mulai dari status sebagai insan muda di kolong langit ini.
Ambisi memang kadang terkesan hiperbola, mungkin juga tak realistis, dan juga dianggap omong besar.
Menurutku, ambisi itu hanya dimiliki oleh golongan muda saja. Pendekatan saya adalah energi yang begitu besar dimiliki oleh yang muda. Sama halnya dengan tulisan ini, sedikit berambisi, karena sy pun tak mau melewatkan hari tanpa adanya celoteh, entah tertulis-kah, sekedar ungkapan-kah, atau cukup hanya dalam lintasan pikiran saja. Energi yang besar tadi, tanpa termanfaatkan dengan baik, tentu akan merusak. Ya, seperti pada tulisan sebelumnya, tentang kanalisasi..

Tanpa ambisi, hidup ini hanyalah seperti lukisan danau yang airnya tenang, adem ayem, tanpa sentuhan corak-corak kasar, dan terpenting, sy jamin, akan membosankan dan tak berselera. Hidup diatur tanpa mengatur. Senyuman yang hampa. Dan tentu, tak punya mimpi. Seonggok daging bertulang yang bergerak dan melakukan aktifitas rutin setiap harinya. wew.

Hidup dengan ambisi, adalah gaya petarung.
Lukisan yang penuh ombak ganas, dan diatasnya terdapat awak yang berkeringat membangun komando dengan rekannya untuk melewati badai kehidupan, untuk mendapatkan daratan yang sejuk, tempat membasuh wajah yang tegang dan berkeringat.

Merencanakan hidup, dengan cita-cita yang besar, akan menegangkan urat-urat saraf, membuka cakrawala berpikir tentang strategi dan apa itu keringat. Memaksa kita pula untuk kreatif, merekasa kondisi, dan menggunakan seluruh komponen indra kita menjadi laskar petarung.

Menjalani hidup dengan cita-cita yang besar, tentu punya resiko. Tapi sebesar apapun resiko itu, asal tidak menginjak kepribadian kita, itulah tantangan. Hambatan adalah tantangan. Resiko adalah Motivasi. Kekurangan menjadi keringat. Batasan adalh ruang gerak. Dan setiap ide adalah peluang.

Melewati hidup dengan penuh cita-cita yang besar. tentu melahirkan orang-orang yang besar pula, kesatria pedang yang pulang kekampung halamannya dengan senyum kemenangan, dengan baju sirah yang tersayat-sayat, lusuh dan penuh lumpur. Dan itulah Ketenangan menurutku.

Hidup penuh ambisi ditandai TANPA keluhan. Karena mengeluh mengugurkan setiap semangat yang ada dalam diri kita.

Hidup penuh ambisi ditandai dengan Ketegangan. Karena, Senyuman itu adalah wahyu, karena Senyuman itu adalah bahasa nurani yang paling merdu.

Hidup penuh ambisi ditandai dengan Ide-ide segar, Kreatifitas tak terbatas, hubungan sosial yang selalu hidup.

Hidup penuh ambisi adalah Kebaikan yang tiada taranya..

Lalu?? Bolehkah??

Minggu, 21 Oktober 2012

Mahasiswa dan .........? (2)

- Eksistensi

   Salah satu cita-cita republik ini yang termaktub dalam Preambule (pembukaan) Undang-undang Dasar 1945 yakni; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Ekspektasi luhur dari cita-cita diatas adalah mencerahkan perilaku pribadi masnusia Indonesia dalam berkarakter hidup bersosial dengan semangat kearifan lokal. Sejarah telah menceritakan kepada kita, untuk mencapai kata Merdeka secara geopolitik tidaklah cukup hanya dengan ambisi, melainkan upaya yang terorganisir, terarah dan terpadu dengan melibatkan seluruh Stakeholder; pemuda, pelajar dan golongan tua terdidik lainnya. Sama halnya dengan pencapaian cita-cita bangsa ini, tak akandigapai tanpa adanya upaya yang terus-menerus, tersistematis, terorganisir, visioner, dengan juga melibatkan seluruh unsur-unsur dalam masyarakat utamanya dalam bidang pendidikan, kepemudaaan dan kebudayaan.
            Universitas sebagai institusi merdeka di bumi ini, tentu memiliki peran dan fungsi yang sangat potensial untuk mencapai cita-cita bangsa ini. Universitas sebagai penyandang pendidikan tinggi juga harus tersistematis dan terpola dalam membentuk karakter mahasiswa yang benar terdidik secara social democrate cosmopolitan (sebagai sekolah sosial kosmopolitan). Besarnya dinamika dan energi dari pelaku dunia kampus dalam hal ini mahasiswa, harus dibuatkan kanal-kanal untuk mengalirkan energi tersebut, wadah tersebut tentu adalah lembaga kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan sebagai miniatur negara, tentu memiliki persoalan kompleks dalam mencapai tujuannya, dimana peran mahasiswa sebagai katalis dari kepentingan-kepentingan yang berpihak kepada hal tertentu saja. Untuk itu dibutuhkan mahasiswa yang kritis, analitis, rasional dan idealis.
            Universitas Hasanuddin dalam sistem kaderisasinya melalui pendidikan berkarakter sebagai upaya perwujudan Tridharma Perguruan Tinggi. Jaminan undang-undang terkait kebebasan berkumpul dan berserikat, mewajibkan setiap organisasi intra perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan potensi mahasiswa ke arah  perluasan wawasan dan peningkatan kecendiakawanan serta integritas kepribadian untuk bersama mencapai tujuan pendidikan tinggi. Pola kaderisasi lembaga kemahasiswaan haruslah bersifat progresif dan mampu menimbulkan semangat kemahasiswaan demi pencapaian taraf hidup masyarakat Indonesia yang lebih baik.



            Bina Orientasi dan Sosialisasi 2012 (BOS 2012) sebagai upaya nyata dari Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (HMS FT-UH) untuk memberikan pengantar kepada mahasiswa baru tentang dinamika kemahasiswaan. Sosialisasi almamater yang mencakup pengenalan terhadap identitas lembaga kemahasiswaan, orientasi profesi keilmuan, peran dan fungsi mahasiswa, pendekatan sosial-kultural, mempersiapkan kader-kader pelanjut tongkat estafet kepemimpinan, secara sistematis akan dijewantahkan dalam kegiatan ini. Oleh karena itu, tanpa adanya dukungan dan partisipasi dari segala pihak, ekspektasi kegiatan ini tentu tak akan dicapai secara maksimal.

(Bab I Pendahuluan, Rancangan Konsep Bina Orientasi dan Sosialisasi 2012)aL.

Jumat, 19 Oktober 2012

Mahasiswa dan ............ ? (1)

- Tawuran

   Terlalu naif kita, jika menganggap tawuran pelajar/mahasiswa adalah sebuah kebiasaan. Atau dikatakan bahwa hampir kejadian ini massif dikancah nasional. keterlaluan juga, ketika kita melihat mahasiswa dengan gaya sedikit kumal dan gembel, lantas kita mengambil kesimpulan, "itu preman kampus.

   Kampus sebagai tempat berkumpul, bermain, dan sosialisasi memiliki dinamika yang besar, bagaimana tidak, karena kampus adalah satu-satunya tempat merdeka di muka bumi ini. Merdeka dalam artian pemikiran dan kreatifitas, berpikir dan berbuat, berakal dan inovatif. Tapi, tak guna juga semua peranan itu jika tanpa "wadah" untuk menuangkan dinamika-dinamika itu. Yang pandai berkelahi, kan ada karate, atau unit kegiatan Tinju, untuk menuangkan minat dan bakat mereka. Di Eropa sana, justru rating (peringkat) Perguruan Tinggi yang menjadi salah satu indikator utamanya adalah prestasi yang diperoleh oleh mahasiswanya (NBA, Football, Soccer, atau Rugby). Kalau di negeri kita yah, minat bakat tadi tidak diasah sehingga "lari"nya salah dan berkesan negatif. Intinya, sebagian besar tawuran itu adalah karena mahasiswa tak punya atau tak diberikan wadah untuk mengkanalisasi dinamika-dinamika (energi besar) tadi sehingga mendobrak kemana-kemana, tak terarah, dan tak termanfaatkan.
   
    Lebih ironis lagi, disamping ulasan diatas, hampir semua konflik-konflik horisontal adalah 'mainan' kepentingan orang besar. Dalam strategi perang 'the art of war' Sun Tzu, mengatakan "membunuh dengan pisau pinjaman", dalam artian bahwa, si Pemangku kepentingan tak perlu repot mengotori tangannya untuk mencapai ambisinya, ya tentu dengan cara yang sedikit licin tanpa tersentuh. Sebuah ketakutan baginya, ketika Gerakan Kritis meluas, efek sosialnya akan merusak konstalasi birokrasi korup. Tak banyak tulisan tentang bagaimana mahasiswa/pemuda diperalat untuk sebuah kepentingan individu global, mungkin memang karena semua intrik yang ada cuma sekedar asumsi tanpa bukti. Sekali lagi, licin dan 'kebal' hukum.


"Rekayasa sosial timbul akibat adanya sentimen atas kondisi manusia.Untuk itu perlu adanya perombakan yang dimulai dari cara pandang/paradigma manusia atas sebuah perubahan" Kang/Ustad/Mahaguru Jalal

- Organisasi
  Kesan buruk bagi mahasiswa juga adalah organisatoris. Memang tak semua mengatakan demikian, namun realita kekinian berkata bahwa indikator pencapaian pendidikan yang tepat waktu adalah ketika mahasiswa tidak terjerumus dalam wadah 'organisasi' ini. Intinya akan menghambat perkuliahan katanya. Dari seluruh aspek yang ada, pencapaian cita-cita pendidikan nasional tak akan tercapai, apabila pelajarnya tak mandiri, tentunya bisa dilakukan melalui wadah organisasi.
   Dalam sekop kacamata kuda (kacamata yang menutupi pandangan luas kuda) tentu akan berpikir seperti diatas.. Melihat organisasi sebagai sarang mahasiswa pemalas, jelas itu adalah kesalahan. Buktinya, silahkan tanya pelaku-pelaku sejarah nasional, apakah betul negara ini bisa 'sedikit berkembang' tanpa adanya keterlibatan dalam 'laboratorium mini negara, atau kita sebut organisasi', founding father kita adalah Organisatoris ulung. Karena terbiasa mencari solusi, berani mengemukakan gagasan, dan kreatif dalam menyiasati masalah-maslah hidup. Dan sekali lagi, tempat berbuat kesalahan memang hanya ada di Organisasi Pelajar. Undang-undang bahkan menjamin kebebasan berkumpul (UUD 1945) dalam wadah lembaga kemahasiswaan (Kepmendikbud 155/U/1998). Dengan alasan itu, kita sama sekali tidak boleh memandang sebelah mata, tentang eksistensi, ekspektasi dan prospek dari lembaga mahasiswa itu sendiri.. -iron.stock-
    Tidak bijak kemudian, kalau kita mendikotomikan antara akademik dan organisasi. Karena mereka satu kesatuan, berjalan beriringan, mutualistik.

(sebagai persepsi pribadi atas respon kegelisahan hati)AL



Minggu, 30 September 2012

Bumi Merah Hitam

alkisah di negeri utopis, jauh dari peradaban
yang langitnya merah sekaligus hitam
dimana warganya sibuk bercocok tanam
untuk tetap berasapnya dapur esok hari

diseberang negeri,
tak jauh dari bumi merah hitam
ada pula negeri edan, yang langitnya terpantul prisma
yang warganya sibuk membuka-buka lemari
untuk tetap bisa berpakaian norak esok hari

kontras peradaban itu semakin nyata,
tapi sang dewa berpikir sederhana,
biarkan jalan keduanya,
biarlah nantinya terseleksi oleh alamnya,
tak peduli, integritas itu masih ada atau tidak,
bagian terpenting adalah kepuasan...

Bumi Merah Hitam berguncang,
menuntut sang dewa agar tak menutup pintu,
menutup segala hasrat, akan naifnya kehidupan yang kau cipta
hambamu tak bodoh,
karena tak juga kau ajar ikan berenang,
atau kupu-kupu untuk terbang.

tapi, yang perlu sang dewa tahu,
hambamu kini murka.
dengan sedikit gugaman kata dari langit,
hanya kata, dan itulah senjata.




di Bumi merah hitam,
telaganya berwarna hitam, jernih saking dalam,
baranya memerah, kapasnya seputih kertas..

adakah kau menjaganya?

Sabtu, 22 September 2012

Sajak Pertemuan Mahasiswa

matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan

dan mendengar dengung di dalam hutan

lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan

kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : "kami ada maksud baik"
dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
"maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?"

kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

tentu, kita bertanya :
"lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?

sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang

dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra

di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !

RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )

Senin, 10 September 2012

The IRON STOCK'


Mahasiswa sebagai bagian dalam masyarakat utuh, mempunyai nilai dan cita-cita luhur sebagai pengabdi bangsa. Sebuah konsep masyarakat madani, tentu dapat terwujud apabila segala perangkat didalamnya berfungsi secara maksimal dan menjunjung tinggi kearifan lokal yang ada. Seiring bergesernya pola hidup pasca modernitas, nilai-nilai kebaikan luhur semakin bergeser sesuai kebutuhan dan kepentingan invidu. Hal ini disebabkan oleh banyak pengaruh, seperti halnya tadi, pop culture, tren dan sikap invidualistik menggerogoti zaman pemakan manusia ini. dalam konteks masyarakat, mahasiswa dituntut agar dapat berpikir netral, dalam artian, mahasiswa belum mempunyai kepentingan pribadi yang begitu besar, sehingga mampu mengakomodir kepentingan masyarakat yang tak tersampaikan.

Kondisi bangsa saat ini tak mempunyai kiblat yang jelas, pancasila yang mempunyai makna filosofis yang pragmatis tak mampu membendung segala hantaman peradaban serta politik kepentingan global. Ketika kondisi bangsa terus seperti ini, kemudian tidak dibarengi dengan penguatan internal, maka secara visioner, bangsa ini akan hancur oleh peradaban itu sendiri. 

Penguatan internal kebangsaan yang dimaksud adalah dengan pendidikan, budaya serta kemandirian dalam segala hal. Politik isolasi memang perlu, jika ada keberanian untuk itu. Lantas? 10-30 tahun kedepan siapakah yang akan memegang peranan penting dalam majunya bangsa ini. Sudah ada bayangan negara ini 30 tahun kedepan jika melihat realitas pemuda dan kemahasiswaan saat ini?

Apakah mampu the iron stock dengan segala kelakuan dan karakternya saat ini menbentengi semangat kearifan lokal dan majunya perdaban masyarakat Indonesia kedepan?

Jawabannya kita lihat pada, (1) buku apa yang dibacanya, (2) siapa teman bergaulnya, (3) bergabung dalam organisasi apa mereka, dan (4) seperti apa social responsibility-nya..

Mahasiswa harus KRITIS, ANALITIS, RASIONAL, & SOLUTIF.

13473350341507496890

Mahasiswa juga harus sedikit “nakal”, pembangkangan serta independensi adalah harga mati untuk sebuah perubahan. aL

Minggu, 09 September 2012

Semesta Sekolahku

Membaca adalah kebutuhan, karena kita dihadapkan pada sejumlah huruf dan angka agar tetap eksis di muka bumi, jika tidak, kita kembali ke gaya primitif, zaman kapak batu dan bahasa monyet yg terstruktur...
Jenis bacaan pun semakin banyak. Mulai dari yang memanjangkan bibir, sampai kepada menciutkan bibir pula. Pola bacaan, secara psikologi akan mempengaruhi cara pandang dan metode berpikir. Dalam hidup berkelompok, sasaran yang diharapkan adalah bagaimana sesorang bisa berpikir sesuai realitas yang ada (open minded) agar mudah mendapatkan solusi bersama, dan jelas akan meminimalkan konflik yang ada.

Saya mahasiswa, untuk belajar dan membuat kerangka berpikir yang ideal, seharusnya saya melepas dahulu dogma agama, doktrin budaya, agar pengetahuan itu tak terbatas. Tetapi pada akhirnya, ketika kita mulai sedikit paham akan pengetahuan yang tak ada batasnya itu, kita gunakan kembali dogma, doktrin, traktat, itu untuk dijadikan bahan perbandingan.

Kini sangat jarang ditemukan, anak muda ngopi dipagi hari dengan koran di genggamannya, atau ketika akses dunia maya bukan search engine yang dibuka, melainkan jejaring sosial, atau sudah jarang yang bertanya, "berita apa hari ini?", malah nyerocos di gerombolan "gosip apa hari ini?". semakin tak berkarakter bumi manusia muda Indonesia hari ini.

Pada akhirnya, kebenaran bukan hanyalah diucap dan diperjuangkan, namun didalam hati dan impuls saraf, kita bisa tahu kebenaran sebenarnya seperti apa; tentunya dengan membaca.


Sebagai koleksi pribadi, mungkin ada yang suka.

Materialisme, Dialektika, Logika - Tan Malaka

Beriman Tanpa Rasa Takut (The Trouble with Islam) - Irsyad Manji

Negara dan Revolusi - Lenin

Das Kapital - Karl Marx

Aksi Massa - Tan Malaka

Agama Yarkislam - Muhammad Amin

Ziarah ke Makam Tuhan - Muhammad Amin

Das Kapital III - Karl Marx

Dibawah Lentera Merah - Soe Hok Gie

Dalih Pembunuh Massal : Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto - John Roosa

"coba lihat sekarang, kontras ruang diskusi semakin terlihat, pintu-pintu aksi massa makin berdebu, gaya alay-lebay dan k-pop makin menjadi, -iron stock- jadi apa bangsa ini ketika daya nalar dan kritis makin tergesar akibat pengarug globalisasi dari atas. aL"

Minggu, 02 September 2012

Favourit Quotes - aldin dJa pari -

post Lahan Kriti(k)s - tempat ini adalah negeri yg utopis... salah satu tempat dmana kita bs bicara tentang makna idealisme hari ini.. salah satu tempat dimana kita bs sdkit membicarakan hal-hal yang mulai tabu dan terpinggirkan dewasa ini...

post Dibawah Panji Fakultas Teknik Unhassesuai agenda P2MB (penerimaan & pembinaan mahasiswa baru), nantinya pada tanggal 30-31 Agustus 2012 akan diisi oleh kegiatan lembaga kmahasiswaan (LK) tingkat fakultas (SKALA).. sementara pada hari pertama P2MB (hari ini), sekitaran 200an mahasiswa se-Unhas (kecuali Teknik) brunjuk rasa, menolak agenda P2MB yg di isi oleh LK... Katanya, sesuai juknis LK Dikti th. 1998, LK dilaksanakan dgn prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa tanpa adanya intervensi dari birokrasi atau tanpa adanya ksepakatan antara pihak terkait.. Dan ini tdak dlakukan...

Sementara dibalik jendela POMD, nampak ksibukan persiapan hari kamis esok tanpa adanya dukungan dari fakultas...

Sy kira sudah tepat, kita manfaatkan momentum P2MB untuk tetap melakukan perekrutan di OKFT-UH.. Sambil merumuskan style yg sesuai kondisi kekinian..


 LK tetap harus ada... apapun modelnya nanti, tergantung kebutuhan dan yang mau mnjalani nanti...
kalau sy jg lihat, justru kita mmg perlu manfaatkan momentum P2MB untuk perekrutan, krna ini bs mnjadi alat paksa buat maba untuk tetap ikut dlm LK dgn pertimbangan maba kuliah di gowa dan POMD msih di Tamalanrea, resikonya, esensi pengkaderan mungkin tdk tersampaikan seluruhnya... ini pula yg jadi alasan untuk mmbuat/merekayasa style baru sesuai kapasitas kmahasiswaan kekinian..

post Chikopank - blum tua sdh malas berpikir..
                   blum tua sdh malas berkreasi..
        blum tua sdh capek bekerja...

ambisi itu cuma milik yg muda fren...

     bukan pi skrg kita beromantis2an akan manisx sejarah...

     (pembicaraan seperti ini, mulai dianggap tabu)

     balada belalang belanda


(narasi perjuangan : setidaknya jangan tunjukkan bodoh itu seperti kamu)


Senin, 20 Agustus 2012

masih tentang GIE (1942-1969)

- Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.

- Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.


- Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.

- Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

- Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

- Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.

- Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.

- Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

- Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?

- Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…

- Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

- Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.

- Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.

- To be a human is to be destroyed.

- Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.

- Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

- I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist

- Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
- Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.

- Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.

- Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

dari berbagai sumber..

Selasa, 14 Agustus 2012

Feminia



Pada akhirnya ;
Saya tidak pernah menarik perhatian wanita dengan harta, dengan ketampanan pun tidak karena tampang saya lusuh dan gembel :D. Saya sangat yakin bahwa hanya dengan kecerdasan, perilaku, humor, dan visi kemanusiaanlah wanita berkualitas akan tertarik. 
Jaman edan, dengan penghuni sedan merayap di tengah-tengah malam clubing dengan pasangan sepadan. Hahaa
Tentang wanita kita, yang terjemahannya selalu salah. Ternyata dibalik seonggok daging bertulang, terkandung sejuta tipuan, yang merayu mata untuk melihat ada apa dibaliknya. Kitalah sang pemangsa peradaban, jastifikasi akan permainan kulit sama sekali tak berguna. Karenanya, peminat sedan dikalangan muda semakin meningkat.
Jika benar akal setipis rambutnya, maka sebaiknya perlu mendulang rambut menjadi baja. Karena justru saking tipisnya, bisa menyayat segala yang mengancamnya. Sperti sayatan pedang Zorro, sekali terangkat maka terpikatlah kau. Sang feminia tidak bersalah, karena untuk itulah mereka diciptakan, sebagai pelengkap, sebagai pilar, sendi bahkan sebagai piala bergilir jika tak hati2 menggunakannya.
Terima kasih engkau wahai wanita, pengorbananmu menambah kecantikanmu yang luar biasa.

aL.

Selasa, 19 Juni 2012

Mungkinkah semua tanya kau yang jawab?

apa kabar kau sang hantu yang dulunya selalu datang dan seolah2 menagih janji-janji yg terdahulu pula?
apa kabar kau semesta yg tak mempunyai sentrum pergerakan bintang?
apa kabar kau tuts keyboard yg menari-nari dikala orang lain sdh menikmati mimpinya?
apa kabar kau sang pembawa berita, layaknya Mikail menabur kesenangan surgawi?
apa kabar kau madilog, yang konon di perasingan barulah kau hidup dgn sarat komunismu?
apa kabar kau sang pena keadilan, yang kadang menemani semalaman suntuk?
apa kabar kau panritta?
apa kabar kau yang bisu, yg hanya bisa memberi nilai tentang kejadian di hadapanmu tpi tak sanggup melupakannya?

apa kabar dirimu?
tidak semua pertanyaan dijawab tidak

Kamis, 07 Juni 2012

kertas kusut di tong sampah


identitas apa lagi yang perlu dibanggakan saat ini?

kita semua terjebak dalam situasi menyenangkan nan dilematis.

parahnya pergerakan pun atau contohnya berdemonstrasi, kini dianggap pembicaraan tabu. bulan2 dimana dahulunya ramai di setiap pintu-pintu kampus kini lengang berganti spanduk2 kegiatan yang 'wow' krena tempatnya di tempat-tempat elit dan pasti mahal.

ruang diskusi diganti game center.
studio dijadikan tempat bermain kartu.
wanita-wanitanya sibuk bergosip film korea yang kemarin ditonton.

para dosen pun sibuk mencari mahasiswanya krena cuma separuh yg hadir dalam kuliahnya. dan juga sebagian dosen malah perlu diajari etika itu apa sama juga dengan mahasiswanya, belum lagi dosen dan mahasiswa kompakan hadir pas menjelang final. dan sebagian mahasiswax lagi sibuk merebut simpati dosen agar dapat nilai A. hingga akhirnya kita dididik untuk bermental buruh, tak ada inovasi, daya nalar, apalagi kritis. itu yang mulai hilang. kader militan apalagi ...

dan sebagian lagi, mencoba menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan, seperti yang juga selalu kucoba lakukan saat ini. miskin inspirasi, sketsa tulisan pun berakhir di tong sampah, terlalu khawatir dibilang jelek atau malah dibilangi curhat, alay dan sebagainya, melunturkan citra idealis menurutnya.

Lalu ada juga yg sementara membahas persoalan kelembagaan, masyarakat bahkan soal kebangsaan. tapi, larinya kekiri dan kekanan karena tidak berdasar dan terarah. atau malah berdebat panjang (dikatakan radikal tidak juga, malah kadang hanya persoalan semantik) giliran aksi "tena kebajikan" "no action" tersangkar dalam menara gadinya. terlalu melangit, tapi tidak membumi.


Itulah potret zamanku.
zaman yang kubenci tapi juga sebenarnya menyenangkan.
hahaa, betul aku memang egois.


Sekarang malah kupikir, tak perlulah kita memilih apakah wawasan itu baik selebar lautan tapi dangkal atau sekecil bubun (sumur) tapi dalam. Yang kita timbang, sejernih apakah pengetahuan kita itu, apakah suci itu jernih atau memang tak ada. Tak usah dijawab, karena hanya untuk dipikirkan.


bpm, 02.06

Minggu, 27 Mei 2012

Dalamnya Dalam


Segala sesuatu, pasti punya penjelasan.bisa kita mulai dari Air yang bergerak sampai kenapa benda itu melayang. Dari yang bentuknya fisik sampai metafisik, mulai dari definisi sampai makna kiasan, ungkapan atau idiom. Dan yang selalu menarik untuk diceritakan adalah soal rasa, karena memang orang lebih senang bercerita tentang dirinya  ketimbang mendengarkan keluhan orang lain, karena begitulah kita manusia butuh apresiasi,butuh perhatian. Dan mungkin alasan itulah ilmu psikologi semakin diminati saat ini, karena robot tak bisa menjelaskan perasaan.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah,
Aada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,
Ttapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi..
..... (masih tentang dalamnya samudra pikiran Soe Hok Gie)

Berbicara hakikat bukanlah soal yang penting, darimana semuanya berasal, menurutku, seperti itulah paradigma publik di jaman maya ini. Lebih mementingkan citra ketimbang substansi. Jaman hidup barbar jilid globalisasi telah lahir. Sedikit waktu untuk membicarakan “kita” atau tentang “mereka” yang perlu kita perhatikan. Sedikit benar, pria-pria kita dibesarkan oleh game, sedangkan para wanitanya sibuk ber-korea-grafi, sinetron jadi patron gaya, keduanya melupakan seperti apa keringat itu sebenarnya. Substansi masih bisa diperdebatkan, tapi jangan sampai kata yang mencari makna.

Segumpal script tadi terpajang di kelabat2 terang dikepalaku.  

Belum lagi kita membahas, seperti apa sesuatu yang bersyarat itu, atau dalam pengertian lain ‘yang menginginkan’, atau juga bisa disebut ‘ungkapan kodrati’, atau dalam script lain juga disebut ‘persaudaraan’..
Semua masih bisa diperdebatkan.. (asal tidak ada justifikasi kalau tidak ada pengertian sempurna mengenai hal itu, dan kita hindari kesan mendikte)..
Dan kita mengulangi perdebatan klasik 2500 tahun yang lalu...

Senin, 21 Mei 2012

The Dream Land (2) Pucuk Tille

Kemarin lagi browsing cari-cari tempat pendakian ketinggian rendah di sekitaran Makassar, yang jalurnya mudah, santai, tapi mampu membuat mimpi2 baru disana. Banyak referensi (dengar2 dari yg sudah berpengalaman), buka google, cari tempat yang dimaksud, dan beritanya 0 (nol). Jadi cuma sekedar sharing info sj buat teman2 yang punya hobi mencari ketenangan, tapi tidak menguras energi terlalu banyak, alternatifnya bisa disini.

Lokasi : Pucuk Tille (1270 Mdpl), Ds. Tille, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Lama Perjalanan : Makassar - Barru - Ds. Tille (sekitar 110 KM) = 3 jam perjalanan naik motor.
          Ds. Tille (sekitar 800 Mdpl) - Lembah Cero-Ceroe (sekitar 1100 Mdpl) = 2,5 jam berjalan kaki.  
          Lembah Cero-Ceroe - Pucuk Tille = 40 Menit jalan kaki..
Area Camp : ada banyak tempat untuk ngecamp di lembah Cero-Ceroe, karena rupanya seperti padang golf di   pegunungan, bahkan menurutku, 1000 tenda bisa muat ditempat ini, apalagi akses untuk mendapatkan air sangat mudah. Sumber air diperkirakan berjarak tiap 100 m. Bisa dipakailah untuk semacam kegiatan bumi perkemahan. Yang perlu dikhawatirkan hanya angin kencang yang bertiup. maklum area terbuka yang sepandangnya menyajikan pesisir laut Barru itu. Seperti itulah.  Disarankan untuk tidak camp di puncak, mengingat angin kencang yang datang tak tentu.

Tidak terlalu tinggi, tidak terlalul lama, dan cocok memang untuk santai (rong).

Berikut gambar2 di lokasi.


Lembah Cero-Ceroe (1)


Lembah Cero-Ceroe (2) tampak dari Pucuk Tille

Boleh kan? Tampak Bagian Timur

Tampak Bagian Selatan


Siluetx bolehlah.


Berbagi waktu dengan alam, kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya...
(Eross-Okta : GIE)




Jumat, 11 Mei 2012

What is the big picture?

Ada sebuah panggung sandiwara. Yang di isi seorang narator, pelakon, dan crew. Cerita ini nantinya akan dipertontonkan kepada seluruh jagad raya. Maka persiapan pun dilakukan, jauh sebelum waktu kejadiannya, harapannya kemudian, cerita itu akan mampu memberikan sesuatu kepada penikmatnya.

Berawal dari sebuah ide, tentang realitas kekinian, cerita pun mulai dibuat, tanpa meninggalkan nilai-nilai yang sudah harga mati dijaga sedari dulu. Keringat dibawah hujan, satu persatu semuanya diramu, diolah sedemikian sehingga harapan yg tadi dapat terwujud. (Semoga tak ada yang luput; hati yang bertanya)

kemudian,

Pementasan selesai.
Semua ribut.
Di tengah jalan, ada yang ditabrak rupanya.
(apakah ada yang luput; hati yang kecewa)
(bukan! ini jelas bukan barang salah, cuma kitalah yang menjadi korban peradaban)

Sama seperti mereka, kami pun tak ingin sempurna..
(karena mungkin berat jika selalu berpikir benar, tapi belum tentu baik; hati yang galau)

Cuma ini yang bisa kukutip sementara dari sandiwara itu
.........menumbuhkan jiwa-jiwa pembaharuan, dibawah naungan panji-panji persatuan...............

Terima kasih karena kau mengajarkan kami sebuah eksistensi pembaharuan...
Semoga aku salah, setelah melihat kalian setelah hari ini,,,

Selasa, 08 Mei 2012

Panggung Lawakan

Menurutku sangat tidak pantas seperti yang tadi...
Seperti panggung lawakan.. Semoga hanya kesengajaan, dan saya salah menanggapi...

Apa yang menjadi landasan kita sebenarnya.. apakah substansi, atau esensi?

Substansi dan esensi memang hampir sama kalau kita tidak teliti kawan...
Sebaik rencana, harus lah ber-substansi tetapi tidak melupakan esensi... esensi hanyalah pertimbangan konvensional...
substansi adalah yang mengatur kita secara sadar... untuk itulah kita berpikir...
bahwa budaya kita sebenarnya, adalah diri kita... yang kemarin hanyalah patron, dan sekali lagi, kita lah budaya itu sendiri..

karena kita yang menentuka siapa kita sebenarnya...